Tradisi Ramadan, 1.500 Porsi Bubur Sup Sedekah Sultan di Masjid Raya Al Mashun Medan

banner 468x60

MEDAN, Radarjakarta.id – Ramadan 1447 Hijriah di jantung Kota Medan kembali memanas—bukan karena cuaca, tapi karena 1.500 porsi bubur sup gratis yang setiap sore diserbu warga di Masjid Raya Al Mashun Medan. Tradisi ini bukan sekadar takjil, melainkan warisan sejarah dari era Kesultanan Deli yang kini menjelma menjadi magnet sosial terbesar saat berbuka.

Dari pelataran masjid peninggalan Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam, aroma bubur mengepul, memancing antrean panjang jelang azan Maghrib. Warga datang dari berbagai penjuru, sebagian membawa wadah sendiri, sebagian memilih berbuka langsung di area masjid. Suasananya riuh, tapi tertib. “Ramai dan seru, sampai terasa seperti rebutan. Tapi tetap teratur,” ujar Yani (68), warga Pematangsiantar yang baru pertama kali mencicipi.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Dari Bubur Pedas Keraton ke Bubur Sup Rakyat

Dahulu, sajian berbuka di masjid ini adalah bubur pedas khas Melayu menu istimewa istana pada masa kejayaan Kesultanan Deli. Namun sekitar 40–45 tahun lalu, resep itu bertransformasi menjadi bubur sup. Alasannya tegas: bahan rempah dan umbi-umbian bubur pedas kian sulit didapat, teknik memasaknya rumit, dan tak semua orang mewarisi keahliannya.

“Dulu ini sedekah sultan, terbatas hanya puluhan orang. Sekarang terbuka untuk siapa pun yang ingin berbagi dan menikmati,” kata Hamdan, pengurus masjid. Jika dulu hanya 50–60 orang yang bisa mencicipi, kini 1.500 porsi per hari disiapkan untuk masyarakat luas sebuah lompatan tradisi yang dramatis.

Resep Turun-Temurun, Rasa Tak Pernah Berubah

Setiap kali masak, dapur masjid mengolah 10 kilogram daging sapi tanpa tulang, 30 kilogram beras, hingga 15 kilogram kentang, ditambah wortel, ubi, kacang, dan rempah pilihan. Semua diaduk dalam kuali besar hingga menjadi bubur kental gurih beraroma khas.

Resepnya tak diutak-atik. Para peracik adalah pewaris keahlian turun-temurun yang menjaga cita rasa tetap otentik. Inilah yang membuat bubur sup Masjid Raya Al Mashun punya identitas kuat bukan sekadar makanan, tetapi simbol keberlanjutan sejarah.

Dua Gelombang Pembagian, 27 Hari Nonstop

Skemanya rapi:

Gelombang pertama, bubur dibagikan untuk dibawa pulang.

Gelombang kedua, disajikan bagi warga yang berbuka di area masjid.

Tradisi ini berlangsung dari hari pertama hingga 27 Ramadan. Memasuki 28 Ramadan sampai akhir bulan, menu berganti menjadi nasi bungkus karena pengurus fokus pada pembagian zakat fitrah.

Klarifikasi yang Mengubah Persepsi

Masih banyak yang menyangka takjil legendaris ini adalah bubur pedas. Hamdan meluruskan: kini yang dibagikan adalah bubur sup, meski akar sejarahnya memang dari bubur pedas era kesultanan. Perubahan ini bukan pengurangan makna, melainkan adaptasi zaman agar tradisi tetap hidup dan bisa dinikmati lebih banyak orang.

Di tengah doa dan harapan warga agar Indonesia tetap damai serta bebas bencana, semangkuk bubur sup di Masjid Raya Al Mashun menjadi lebih dari sekadar menu berbuka. Ia adalah bukti bahwa warisan sultan bisa bertransformasi menjadi milik rakyat—hangat, bergizi, dan menyatukan.|Dita*

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.