MEDAN, Radarjakarta.id – Idul Adha, yang dikenal sebagai Hari Raya Kurban, menjadi momen penting bagi umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Lebih dari sekadar ibadah, perayaan ini juga sarat akan nilai kebersamaan dan gotong royong, yang salah satunya tercermin dalam tradisi memasak daging kurban menjadi sate.
Setelah prosesi penyembelihan hewan kurban rampung, momen yang paling ditunggu-tunggu pun tiba: acara bakar-bakar sate. Hampir di setiap sudut permukiman, warga tampak antusias menyalakan arang dan memanggang potongan daging kambing atau sapi yang baru saja dibagikan. Bau harum sate yang mengepul menambah semarak suasana hari raya.
“Setelah daging dibagikan, biasanya malam harinya kami langsung kumpul buat bakar sate bareng-bareng. Ini sudah jadi tradisi dari tahun ke tahun,” ujar Surya Hidayat sapaan Doel, warga Tembung, Medan.
Lebih dari Sekadar Makanan
Sate menjadi pilihan utama karena praktis dan cepat disajikan. Cukup dengan bumbu kecap atau bumbu kacang, proses pembuatannya tidak memerlukan waktu lama dibandingkan rendang atau semur yang butuh proses masak lebih kompleks. Selain rasanya yang lezat, sate juga menjadi menu andalan yang menyatukan keluarga dan tetangga dalam satu meja.
“Rasanya belum lengkap Idul Adha kalau belum bakar sate,” tambah Doel sambil tersenyum.
Tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan antarwarga, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur atas limpahan rezeki. Bahkan, di sejumlah daerah, kegiatan bakar sate masih berlanjut hingga beberapa hari setelah lebaran kurban.
Jaga Keamanan, Jangan Abaikan Keselamatan Anak
Namun, di balik kemeriahan tersebut, aspek keselamatan tidak boleh diabaikan. Mengutip laman Safe Kids, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan saat membakar sate, terutama bagi keluarga yang memiliki anak kecil.
1. Lakukan di Area Terbuka
Membakar sate sebaiknya dilakukan di luar ruangan. Asap dari pembakaran bisa mengandung karbon monoksida yang berbahaya bila dihirup dalam ruang tertutup.
2. Jauhkan Anak dari Area Pembakaran
Anak-anak cenderung penasaran dan ingin ikut serta. Pastikan mereka tidak mendekati perapian. Ajak mereka bermain di dalam rumah sebagai alternatif.
3. Jangan Tinggalkan Alat Pembakaran
Pastikan selalu ada orang dewasa yang mengawasi saat memanggang. Jangan pernah meninggalkan alat pembakaran tanpa pengawasan.
4. Siapkan Langkah Antisipasi
Sediakan ember berisi air atau alat pemadam sederhana di dekat lokasi pembakaran untuk berjaga-jaga bila terjadi hal yang tidak diinginkan.
5. Masak Daging dengan Benar
Cuci tangan sebelum mengolah daging. Gunakan alat masak yang berbeda untuk daging mentah dan matang. Hindari membakar daging hingga gosong, karena bagian gosong mengandung zat berbahaya seperti dioksin yang bersifat karsinogenik.
Menurut dr. Erwin Sp.OG konsumsi daging yang terbakar hingga gosong dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit serius, termasuk kanker.
Lebih dari Sekadar Ritual
Idul Adha bukan hanya tentang berkurban, melainkan juga tentang merayakan nilai-nilai solidaritas dan kemanusiaan. Tradisi bakar sate menjadi cermin dari semangat berbagi dan kebersamaan yang tak lekang oleh waktu.
“Idul Adha itu bukan hanya tentang ibadah, tapi juga soal kebahagiaan yang dibagikan ke sesama,” tutup Doel. (*)
Tradisi Bakar Sate Meriahkan Idul Adha, Simbol Kebersamaan dan Rasa Syukur










