JAKARTA, Radarjakarta.id – Panggung besar sektor keuangan nasional memasuki babak baru. Komisi XI DPR RI akhirnya mengetok palu dan menyetujui Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk periode 2026–2031.
Keputusan strategis tersebut diambil setelah Friderica menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR RI pada Rabu, 11 Maret 2026. Persetujuan itu sekaligus mengakhiri kekosongan kursi pimpinan OJK setelah mundurnya Mahendra Siregar pada 30 Januari 2026.
Penunjukan ini menjadi sorotan publik karena berlangsung di tengah dinamika pasar modal Indonesia yang sempat diterpa sentimen negatif global.
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menyampaikan bahwa penetapan tersebut merupakan hasil keputusan internal setelah seluruh kandidat menjalani proses seleksi yang ketat.
“Diputuskan ada lima jabatan yang akan diisi. Untuk Ketua Dewan Komisioner OJK adalah Ibu Friderica Widyasari Dewi dan Wakil Ketua Bapak Hernawan Bekti Sasongko,” ujar Misbakhun di Kompleks DPR RI, Jakarta.
Selain Friderica, Komisi XI juga menetapkan Hernawan Bekti Sasongko sebagai Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK yang akan mendampingi kepemimpinan lembaga pengawas sektor jasa keuangan tersebut.
Dari Pjs Hingga Ketua Definitif
Sebelum dipercaya memimpin penuh OJK, Friderica lebih dahulu menjalankan tugas sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Ketua OJK setelah Mahendra Siregar mengundurkan diri. Saat itu ia juga menjabat Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen di OJK.
Dengan pengalaman panjang di industri keuangan, perempuan yang akrab disapa Kiki ini dinilai memiliki kapasitas kuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional sekaligus meningkatkan kepercayaan investor.
Jejak Panjang di Pasar Modal
Friderica lahir di Cepu pada 28 November 1975. Karier akademiknya dimulai di Universitas Gadjah Mada dengan meraih gelar Sarjana Ekonomi pada 2001.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat dan memperoleh gelar Master of Business Administration (MBA) bidang keuangan dari California State University Fresno pada 2004. Tak berhenti di situ, ia kembali ke UGM dan menyelesaikan program doktoral di bidang kepemimpinan dan inovasi kebijakan pada 2019.
Di dunia profesional, Friderica dikenal sebagai figur penting di industri pasar modal. Kariernya dimulai di Bursa Efek Indonesia sejak 2005 hingga akhirnya menjabat Direktur Pengembangan Pasar pada periode 2009–2015.
Setelah itu ia dipercaya memimpin Kustodian Sentral Efek Indonesia sebagai Direktur Utama pada 2016–2019, sebelum melanjutkan karier sebagai Direktur Utama di BRI Danareksa Sekuritas pada 2020–2022.
Pada 2022, Friderica resmi bergabung dengan OJK sebagai Anggota Dewan Komisioner yang membidangi edukasi dan pelindungan konsumen.
Selain pengalaman manajerial, ia juga memiliki sertifikasi profesional pasar modal seperti Wakil Manajer Investasi dan Wakil Penjamin Emisi Efek yang diterbitkan oleh OJK.
Figur Strategis di Balik Layar
Di luar karier profesionalnya, Friderica juga dikenal sebagai istri dari Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono yang berpangkat Komisaris Jenderal Polisi.
Kini, dengan latar belakang kuat di regulator, pasar modal, hingga industri sekuritas, Friderica dipercaya memimpin OJK untuk lima tahun ke depan.
Tantangan besar pun menanti: menjaga stabilitas sektor jasa keuangan, memperkuat perlindungan investor, serta memastikan industri keuangan Indonesia tetap tangguh di tengah tekanan ekonomi global.***











