TEDxSampoerna University 2026 Dorong Gen Z Bangun Resiliensi di Tengah Disrupsi

banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Sampoerna University kembali menggelar forum ide TEDxSampoerna University 2026 dengan tema “AfterAll: What Remains Beneath” di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Acara yang memasuki penyelenggaraan keenam ini menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai bidang untuk berbagi gagasan tentang pentingnya resiliensi, nilai diri, dan kreativitas bagi Generasi Z di tengah perubahan teknologi dan sosial yang semakin cepat.

Kegiatan ini menghadirkan delapan pembicara terkurasi yang membahas tiga subtema utama, yakni Beneath Idea, Beneath Action, dan Beneath Expression. Ketiga subtema tersebut kemudian dikembangkan menjadi berbagai topik yang disesuaikan dengan latar belakang serta keahlian masing-masing pembicara.

Salah satu pembicara adalah Edward Tirtanata, CEO dan pendiri Kopi Kenangan. Ia membawakan topik “Behind the Pitch: The Power of Resilience in Innovation” yang menyoroti pentingnya ketahanan dalam membangun perusahaan rintisan.

Menurut Edward, perjalanan membangun Kopi Kenangan selama hampir satu dekade tidak lepas dari berbagai tantangan, mulai dari pandemi Covid-19, tekanan inflasi, hingga ekspansi bisnis yang sempat terlalu agresif.

“Kami memiliki misi menjadi jaringan kedai kopi nomor satu dari Indonesia hingga ke tingkat global. Namun ada banyak rintangan yang harus kami hadapi, termasuk saat pandemi dan tekanan ekonomi. Dari situ kami belajar membangun kembali fondasi bisnis, memperkuat identitas merek, dan fokus pada nilai yang ingin kami tawarkan,” ujar Edward.

Selain Edward, acara ini juga menghadirkan sutradara film Naya Anindita yang dikenal lewat karya seperti Imperfect the Series dan film Komang. Dalam sesi bertajuk “Why Real Beats Perfect”, Naya berbagi pengalaman mengenai proses kreatif dan penerimaan terhadap kegagalan dalam berkarya.

Sutradara Film Naya Anindita

Ia mengatakan bahwa keinginan untuk mencapai kesempurnaan sering kali justru menjadi hambatan bagi seniman. Menurut Naya, kejujuran dan keberanian untuk menjadi diri sendiri jauh lebih penting dalam menciptakan karya yang bermakna.

“Kegagalan adalah bagian dari proses yang tidak bisa dihindari. Dari situ kita belajar, tumbuh, dan menemukan versi diri yang lebih baik,” kata Naya.

Pembicara lain yang turut berbagi gagasan adalah Tara Susanto-Joseph, Co-Founder Bumiterra. Ia membawakan topik “Personal Choices, Public Impact: Choosing What We Serve” yang mengajak audiens merefleksikan makna di balik setiap pilihan yang dibuat dalam kehidupan sehari-hari.

Tara Susanto-Joseph, Co-Founder Bumiterra

Menurut Tara, setiap keputusan baik yang kecil maupun besar selalu membawa konsekuensi, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi lingkungan dan masyarakat di sekitar.

Melalui paparannya, Tara menekankan bahwa setiap individu memiliki kesadaran dan kemampuan untuk menjadikan pilihan pribadi sebagai bentuk kontribusi nyata bagi orang lain. Dengan kata lain, tindakan sehari-hari dapat memiliki dampak sosial yang lebih luas ketika dilakukan dengan kesadaran dan tanggung jawab.

Tema “AfterAll: What Remains Beneath” diangkat dari realitas bahwa perubahan saat ini berlangsung semakin cepat. Perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai akan mengubah cara manusia bekerja dan berinteraksi.

Berdasarkan laporan Ipsos AI Monitor 2024, sekitar 44 persen responden di Indonesia percaya bahwa AI akan mengubah cara manusia bekerja dalam lima tahun ke depan. Perubahan tersebut membuat banyak generasi muda, khususnya Gen Z, mulai mempertanyakan arah karier sekaligus makna hidup mereka.

Melalui diskusi dan berbagi gagasan, acara ini mengajak generasi muda untuk kembali melihat nilai-nilai yang tetap bertahan di tengah perubahan, seperti resiliensi, kreativitas, dan kemanusiaan.

Wakil Rektor Bidang Student Success Erik Krauss mengatakan kegiatan ini sejalan dengan komitmen kampus dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi tantangan global.

“Acara ini mencerminkan komitmen kami untuk mendukung kesuksesan mahasiswa tidak hanya secara akademik, tetapi juga sebagai individu yang tangguh dan memiliki arah hidup yang jelas,” ujar Erik.

Ia berharap forum seperti TEDxSampoerna University dapat terus menjadi ruang bertukar ide dan inspirasi bagi generasi muda Indonesia, sekaligus mendorong munculnya gagasan baru di tengah era disrupsi.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.