Teddy Ngambek, Merasa Cuma Pajangan di Konpers

banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id — Potongan video konferensi pers yang menampilkan Teddy Indra Wijaya bersama Airlangga Hartarto dan Rosan Roeslani menjadi perbincangan luas di media sosial, Sabtu (22/2). Cuplikan berdurasi singkat itu memicu beragam tafsir publik terkait dinamika komunikasi di internal pemerintah.

Dalam video yang beredar, momen terjadi setelah konferensi pers resmi dinyatakan selesai. Teddy terlihat mendekati Airlangga dan bertanya singkat, “Sudah selesai, Pak?” Ia kemudian bergerak ke arah Rosan dan menyampaikan kalimat pelan yang tertangkap mikrofon: “Ngundang saya cuma buat pajangan?”

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Ekspresi para pejabat yang terekam kamera, termasuk perubahan raut wajah Airlangga, langsung memancing spekulasi. Sebagian warganet menilai kalimat tersebut menunjukkan kekecewaan karena tidak mendapat kesempatan berbicara. Namun, tidak sedikit pula yang beranggapan percakapan itu bersifat internal dan tak disengaja terekam.

Fokus Awal: Perdagangan RI–AS

Konferensi pers tersebut sejatinya membahas perkembangan hubungan dagang Indonesia dan Amerika Serikat, termasuk putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan kebijakan tarif global pada era pemerintahan Donald Trump.

Dalam keterangannya di Washington, Airlangga menegaskan bahwa kesepakatan bilateral tetap berjalan sesuai mekanisme yang disepakati, termasuk periode 60 hari setelah penandatanganan.

Sebelumnya, dalam sesi wawancara terpisah, Teddy juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan kesiapan Indonesia menghadapi berbagai skenario global. Hal itu menunjukkan bahwa secara substansi, pemerintah menyatakan tetap solid dan terkoordinasi dalam merespons dinamika perdagangan internasional.

Namun perhatian publik justru bergeser dari substansi kebijakan ke momen singkat yang terekam kamera tersebut.

Catatan Pengamat

Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio menilai peristiwa itu menjadi refleksi penting dalam manajemen komunikasi publik.

Menurutnya, dalam sebuah konferensi pers resmi, komposisi pembicara dan peran masing-masing pejabat sebaiknya disampaikan secara jelas sejak awal. “Jika formatnya satu pembicara utama, perlu dijelaskan. Jika kolektif, moderator dapat memberi ruang singkat kepada pejabat lain agar tidak muncul persepsi berbeda,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menarik kesimpulan dari potongan video yang belum tentu menggambarkan konteks utuh.

Klarifikasi Ditunggu

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai maksud percakapan tersebut. Tanpa penjelasan lengkap, ruang publik masih diisi berbagai asumsi.

Peristiwa ini kembali menunjukkan bahwa dalam era digital, rekaman singkat dapat dengan cepat membentuk opini dan mengalihkan perhatian dari isu kebijakan utama. Pemerintah diharapkan dapat memberikan klarifikasi agar polemik tidak berkembang menjadi kesimpulan yang keliru.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.