KABUPATEN BANDUNG, Radarjakarta.id — Suasana Pangalengan berubah tegang setelah sidak mendadak dilakukan Bupati Bandung Dadang Supriatna bersama Kapolresta Bandung Kombes Pol Aldi Subartono, Sabtu (29/11/2025). Sidak tersebut dilakukan setelah muncul laporan bahwa kebun teh milik PTPN I Regional 2 telah dibabat dan dialihfungsikan menjadi lahan kentang serta wortel tanpa izin.
Kejutan terjadi ketika rombongan tiba di Blok Pahlawan. Hamparan kebun teh yang selama puluhan tahun menjadi identitas wisata Pangalengan, kini berubah drastis menjadi kebun sayur. Lebih mengejutkan lagi, para petani yang awalnya sedang bekerja langsung kabur saat Bupati memanggil mereka untuk dimintai keterangan. “Ini dilakukan secara kucing-kucingan. Bahkan penebangan dilakukan malam hari menggunakan bahan kimia Finsol,” ujar Bupati Dadang geram.
Data kepolisian menunjukkan sedikitnya 14 hektare lahan telah dirusak di tiga titik: Bojongwaru, Cipicung I, dan Cipicung II. Namun sumber internal menyebut kemungkinan kerusakan sebenarnya jauh lebih besar, bahkan bisa mencapai lebih dari 140 hektare sejak tahun lalu. Jika harus dipulihkan, biaya konservasi diperkirakan mencapai Rp35 miliar dan memakan waktu bertahun-tahun.
Sejumlah warga menduga ada aktor bermodal besar yang mengorganisir penebangan dan menjanjikan pembelian seluruh hasil panen petani. Iming-iming keuntungan cepat membuat sebagian petani tergiur. Namun banyak warga lain memilih bungkam karena mengaku takut dengan ancaman dari pihak tertentu yang diduga menjadi pengendali operasi alih fungsi lahan.
Kapolresta Bandung Kombes Pol Aldi Subartono memastikan kasus ini ditangani serius. Ia menyebut penyidik telah mengantongi nama-nama pelaku yang terlibat dalam penebangan hingga distribusi hasil panen. “Kami sudah melakukan olah TKP sejak 25 November. Nama-nama pelaku sudah teridentifikasi dan kami dalam tahap pendalaman peran,” tegasnya.
Dari perspektif lingkungan, pengamat agraria mengingatkan bahwa kerusakan ini tidak hanya merusak lanskap dan daya tarik wisata, tetapi juga meningkatkan risiko longsor karena tanaman kentang tidak memiliki daya cengkeram akar sekuat teh. Perubahan ekosistem ini dinilai berpotensi mengancam sumber air dan stabilitas tanah di wilayah perbukitan.
Bupati Bandung meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terprovokasi. Ia memastikan pemerintah daerah bersama kepolisian akan menindak tegas pelaku dan memperketat pengawasan lahan negara. “Pangalengan bukan tempat uji coba bisnis ilegal. Ini warisan alam dan harus dijaga,” tegasnya. Pemerintah kini menyiapkan langkah pemulihan serta penjagaan ketat agar kasus serupa tidak kembali terulang.***











