Seluruh Korban ATR 42-500 Ditemukan, Tujuh Hari Menantang Maut di Gunung Bulusaraung 

banner 468x60

MAKASSAR, Radarjakarta.id – Pencarian kecelakaan pesawat ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, resmi berakhir. Pada hari ketujuh operasi, Tim SAR gabungan memastikan seluruh korban telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, menutup satu pekan operasi penuh risiko yang menguras fisik, emosi, dan nyawa para penyelamat.

Kabar penemuan korban terakhir menjadi momen paling emosional di Posko Komando Tompobulu, Balocci. 

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Tangis haru pecah, doa dipanjatkan, dan para komandan lapangan langsung bersujud syukur, menandai berakhirnya operasi pencarian yang sejak awal dijalankan dengan sandi “Sapu Bersih”.

Selama tujuh hari, tim gabungan berjibaku dengan kabut tebal, hujan tanpa jeda, suhu ekstrem, serta medan jurang curam yang dapat berubah menjadi aliran deras sewaktu-waktu. Namun segala keterbatasan itu tak menghentikan tekad untuk memastikan tak satu pun korban tertinggal di gunung.

Korban terakhir dari total 10 orang ditemukan pada Jumat pagi, sekitar pukul 08.40 WITA, oleh Tim Elang 5 Yonif 700 Raider Kodam XIV/Hasanuddin bersama unsur SAR lainnya. Penemuan ini menjadi titik akhir dari rangkaian pencarian paling menegangkan dalam beberapa tahun terakhir di Sulawesi Selatan.

Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, tak mampu menyembunyikan emosinya saat laporan masuk dari lapangan. Tanggung jawab besar yang ia emban selama sepekan penuh akhirnya terbayar lunas.

“Total 10 korban telah ditemukan. Ini hasil kerja bersama tanpa sekat institusi,” ujarnya dengan suara bergetar.

Suasana haru semakin terasa ketika Andi Sultan berdiri bersama Asisten Operasi Kodam XIV/Hasanuddin Kolonel Inf Dody Priyo Hadi dan Asisten Perencanaan Kolonel Inf Abi Kusnianto. Ketiganya larut dalam pelukan setelah memastikan seluruh target operasi terpenuhi.

Kolonel Dody mengungkapkan, medan tempat korban terakhir ditemukan merupakan cekungan tebing menyerupai alur sungai kering yang sangat berbahaya. Evakuasi hanya bisa dilakukan dengan teknik tali-temali tingkat tinggi, menuruni jurang dalam kondisi licin dan minim visibilitas.

“Posisinya berada di dasar cekungan. Saat hujan, lokasi ini bisa berubah jadi aliran air deras. Risiko bagi prajurit sangat tinggi,” jelas Dody.

Jenazah korban kemudian dievakuasi menggunakan helikopter TNI AU jenis Caracal menuju RS Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi. 

Hingga Jumat sore, 11 kantong jenazah diterima tim medis, meski dalam manifes tercatat 10 penumpang, karena satu kantong berisi bagian tulang.

Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro menyampaikan, sejauh ini tiga korban telah teridentifikasi secara resmi, termasuk dua kru pesawat dan satu pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan. Proses identifikasi diperkirakan masih akan berlangsung hingga sepekan ke depan.

Pesawat Indonesia Air Transport (IAT) ATR 42-500 registrasi PK-THT diketahui lepas landas dari Yogyakarta menuju Makassar pada 17 Januari 2026 dalam misi pemantauan udara. Kontak dengan pengendali lalu lintas udara hilang saat pesawat memasuki wilayah Sulawesi Selatan. Serpihan kemudian ditemukan di lereng Bulusaraung, menguatkan dugaan Controlled Flight Into Terrain (CFIT).

Operasi SAR ini tak hanya mencatat keberhasilan teknis, tetapi juga memperlihatkan kekuatan solidaritas TNI, Polri, Basarnas, relawan, dan masyarakat lokal yang bahu-membahu di tengah ancaman maut.

“Tujuh hari, tanpa menyerah. Hari ini kami tutup dengan sandi ‘sapu bersih’, dan seluruh korban berhasil ditemukan,” tutup Kolonel Dody.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.