JAKARTA, Radarjakarta.id – Menjadi lansia bukanlah akhir perjalanan, melainkan fase baru yang penuh warna. Perubahan fisik, psikologis, dan emosional memang tidak bisa dihindari.
Namun bagaimana kita menyikapinya akan menentukan kualitas hidup di usia senja.
Menurut dr. Soeharijanto Ary Soekadi, MPsiT, SpKKLP, Wakil Ketua II Nasional PKBI sekaligus Direktur Indonesia Ramah Lansia (IRL) DKI Jakarta, setiap lansia perlu dipandang layaknya “matahari” yang terus bersinar sejak terbit hingga tenggelam.
“Tidak ada yang bisa menghentikan proses menua. Tetapi, kita bisa memilih untuk mengisinya dengan hal-hal positif, aktif, dan produktif,” ujarnya saat memberikan paparan di Pejaten Suite, Jakarta Selatan. Sabtu (30/8/2025)
dr. Soeharijanto menyatakan, hal ini sejalan dengan pesan dalam Al-Qur’an surat Yasin ayat 68 yang mengingatkan bahwa panjang umur akan diiringi dengan perubahan fisik dan kognitif, sehingga manusia dituntut untuk lebih bijak dalam menjalani hidupnya.
Fakta menunjukkan, banyak lansia yang mengalami kesepian, depresi, hingga penurunan kognitif apabila tidak segera diarahkan pada aktivitas sosial yang bermakna.
Karena itu, Sekolah Lansia Srikandi TP Sriwijaya hadir sebagai ruang edukasi, tempat para lansia dapat belajar mengenal dirinya, tetap aktif, serta membangun kemandirian dengan prinsip sederhana: hidup tanpa menyusahkan orang lain.
“Kesepian adalah pintu masuk menuju depresi dan gangguan daya ingat. Dengan berkumpul di sekolah lansia, para ayu-ayu dan kakung lansia bisa menstimulasi otak, menjaga daya ingat, sekaligus menumbuhkan rasa bahagia,” tambah dr. Soeharijanto.
Konsep Sekolah Ramah Lansia mengintegrasikan dimensi yang diusung BKKBN, antara lain:
• Dimensi Spiritual: mendekatkan diri kepada Tuhan.
• Dimensi Intelektual: gemar membaca dan belajar.
• Dimensi Emosional: mengelola emosi agar tetap seimbang.
• Dimensi Sosial: aktif berinteraksi dengan lingkungan.
• Dimensi Vokasional: produktif dan mandiri secara finansial.
• Dimensi Ketenangan: menjaga diri tetap sabar, tenang, dan bijaksana.
Selain itu, aktivitas seperti terapi musik dan lagu terbukti mampu menstimulasi sel otak agar tidak cepat melemah, sehingga lansia tetap segar secara mental.
Ditambah dengan olahraga, layanan kesehatan, dan keterlibatan organisasi, lansia bisa hidup lebih panjang umur sekaligus berkualitas.
Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Perempuan, Novian Andusti, SE., MT., bahkan menyebut semangat lansia ibarat “LUNA MAYA” : Lanjut Usia NAmun MAsih bergaYA.
Pesan ini menegaskan bahwa usia senja tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berkarya, melainkan kesempatan untuk terus berkontribusi dan menikmati hidup.
“Lansia harus tetap berani bermimpi, produktif, dan berkarya. Karena sejatinya, hidup yang bermakna adalah ketika usia senja tetap diisi dengan kebermanfaatan,” tutup dr. Soeharijanto. | Guffe*











