NEW YORK, Radarjakarta.id – Empat dekade setelah Presiden Soeharto berdiri di podium Roma menyuarakan mimpi besar kedaulatan pangan, kini sejarah berulang. Presiden Prabowo Subianto, di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, dengan lantang mengumumkan bahwa Indonesia telah menorehkan capaian monumental: swasembada pangan dan bersiap menjadi eksportir beras dunia.
Kehadiran Prabowo di forum tertinggi dunia ini mencetak sejarah baru. Setelah 11 tahun lamanya Indonesia absen, akhirnya kepala negara kembali bicara langsung di mimbar debat umum Sidang Majelis Umum PBB. Momentum ini bukan sekadar seremoni, tetapi pernyataan posisi Indonesia di panggung global.
Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa PBB saat ini memasuki masa krusial. Dunia dilanda krisis pangan, konflik, dan perubahan iklim yang menekan jutaan jiwa. Di tengah kegentingan itu, Indonesia hadir bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai kekuatan baru yang siap memberi solusi nyata.
“Indonesia tidak hanya berhasil memberi makan rakyatnya, tetapi juga siap berbagi dengan dunia,” tegas Prabowo di hadapan para pemimpin negara anggota PBB.
Pernyataan ini langsung menjadi sorotan, mengingat beras selama puluhan tahun menjadi titik lemah ketahanan pangan Indonesia. Kini, klaim swasembada pangan dan kesiapan ekspor beras bukan sekadar janji politik, tetapi bukti arah baru pembangunan nasional.
Sejarah pun terasa berulang. Jika dulu Soeharto dikenal dengan gagasan besar ketahanan pangan di tingkat internasional, kini Prabowo mengangkatnya lebih tinggi: dari mimpi menjadi kenyataan.
Dengan sikap percaya diri, Prabowo juga menegaskan bahwa Indonesia siap memainkan peran lebih besar dalam kerja sama internasional. Menurutnya, PBB justru paling dibutuhkan saat ini sebagai wadah kolaborasi global.
Kehadiran Indonesia di podium PBB bukan sekadar simbol, melainkan penegasan bahwa bangsa ini tak lagi sekadar penerima bantuan, melainkan penentu arah baru dunia.***











