Peran Polri di SPPG: Pencegahan sebagai Inti Kebijakan
Dalam praktiknya, peran Polri di SPPG bersifat preventif. Mulai dari memastikan bahan baku memiliki sumber yang jelas, mendorong standar higienitas dalam pengolahan, hingga menjaga ketertiban distribusi agar makanan sampai tepat waktu dan layak konsumsi.
“Dalam urusan gizi anak, negara tidak boleh menunggu insiden. Pencegahan adalah bentuk tanggung jawab tertinggi,” ujar Haidar Alwi.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip quality assurance dalam kebijakan publik, di mana negara hadir sebagai penjaga mutu sistem, bukan sekadar pemadam krisis.
Disiplin Kebijakan dan Arah Presiden
Presiden Prabowo Subianto secara terbuka memberikan apresiasi terhadap peran Polri dalam mendukung MBG melalui SPPG. Apresiasi ini menegaskan arah kebijakan: program strategis harus dijalankan dengan disiplin tinggi dan tanggung jawab penuh.
“Apresiasi Presiden menunjukkan bahwa negara memilih kehati-hatian dan keselamatan publik di atas kenyamanan administratif,” kata Haidar Alwi.
Sikap ini menandai kedewasaan negara dalam mengelola kebijakan besar, tidak tergesa, tetapi juga tidak lengah.
Negara Hadir dengan Sistem, Bukan Improvisasi
Satu tahun MBG memberikan pelajaran penting bahwa kebijakan besar tidak bisa bergantung pada niat baik semata. Ia membutuhkan struktur, disiplin, dan institusi yang mampu menjaga standar hingga ke titik paling bawah. Dalam konteks ini, kehadiran Polri di SPPG adalah bagian dari upaya negara menjaga mutu kebijakan publiknya. MBG bukan sekadar kebijakan hari ini, melainkan cara negara menyiapkan Indonesia puluhan tahun ke depan.
“Ketika negara bekerja dengan sistem, menjaga disiplin, dan melindungi anak-anaknya melalui pencegahan, di situlah martabat kebijakan publik berdiri,” jelas Haidar Alwi.
Meski begitu, kata Haidar Alwi pelaksanaan program MBG tetap memerlukan pengawas. Sehingga, kegagalan sekecil apa pun bisa diminimalisir. Mutlak itu dan harus segera. Supaya tidak terjadi seperti yang selama ini. Walaupun jumlahnya kecil.
“Sekali lagi, kalau untuk gagal itu tidak kecil besar, tidak kuantitas yang dipikirkan, oh cuma sekian, oh cuma sekian, enggak. Tapi ada kegagalan itu berarti butuh pengawasan. Walaupun kecil seperti Pak Prabowo bilang 0,0001 persen gagal,” ujar Haidar.
“Tapi tetap butuh pengawasan karena masih ada kegagalan. Ada pun ada yang tidak berhasil, yang sakit perut dan lain sebagainya itu. Itu kecelakaan itu kecil. Bukan kecil… Kalau gagal itu kecil, itu dinyatakan besar,” tandas Haidar Alwi.|Bemby











