JAKARTA, Radarjakarta.id — Telur selama ini dianggap sebagai musuh nomor satu bagi penderita kolesterol. Banyak orang takut mengonsumsi telur terlalu sering karena khawatir kadar LDL melonjak. Namun, fakta terbaru justru mematahkan stigma itu. Sejumlah riset internasional, ditambah penjelasan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin di TikTok, menunjukkan bahwa makan dua butir telur setiap pagi ternyata tidak menyebabkan kenaikan kolesterol, selama cara pengolahannya tepat.
Penjelasan ini sontak memicu perdebatan publik. Selama bertahun-tahun, telur disalahkan sebagai penyebab penyakit jantung, stroke, hingga penyumbatan pembuluh darah. Namun pandangan itu dinilai terlalu menyederhanakan masalah. Para ahli menegaskan, yang membuat kolesterol naik bukan telurnya, tetapi lemak jenuh dan proses memasaknya, terutama bila digoreng berulang kali atau dicampur minyak yang sudah dipakai berkali-kali seperti pada telur crispy atau telur balado ala warung.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports 2025 menyebutkan bahwa konsumsi 1–2 butir telur setiap hari pada orang sehat justru membantu menyeimbangkan kadar HDL (kolesterol baik) dan menekan LDL (kolesterol jahat). Studi dari Monash University Australia bahkan menemukan bahwa konsumsi telur 3–6 kali per minggu dapat menurunkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular pada lansia. Temuan ini membalik logika lama yang selama puluhan tahun dipercaya banyak orang.
Namun, para pakar gizi menekankan satu hal penting: cara makan menentukan manfaatnya. Telur yang direbus, dikukus, atau dipanggang tanpa minyak berlebih memberi manfaat maksimal. Sebaliknya, jika telur digoreng dengan minyak pekat, margarin tebal, atau dinikmati bersama makanan tinggi kolesterol seperti sosis, keju, dan daging olahan, maka risiko kenaikan kolesterol memang meningkat tajam.
Meski begitu, bukan berarti semua orang boleh bebas makan telur tanpa batas. Ahli nutrisi menegaskan bahwa penderita diabetes tipe 2, obesitas, atau memiliki riwayat penyakit jantung tetap harus berkonsultasi dengan dokter sebelum menjadikan telur sebagai makanan harian. Tubuh setiap orang merespons lemak dan kolesterol secara berbeda, sehingga pola makan tetap harus disesuaikan dengan kondisi medis masing-masing.
Budi Gunadi Sadikin mengajak masyarakat untuk mulai “berdamai” dengan makanan sehat yang selama ini salah dipersepsikan. Menurutnya, masyarakat perlu berhenti percaya mitos dan mulai mengikuti data ilmiah terbaru. Telur, katanya, bukan hanya sumber protein berkualitas tinggi, tetapi juga kaya kolin yang penting bagi fungsi otak, metabolisme sel, dan daya tahan tubuh.
Dengan fakta baru ini, sarapan sederhana dua butir telur rebus bisa menjadi langkah kecil menuju hidup lebih sehat. Jika dipadukan dengan gaya hidup aktif, pola makan seimbang, dan kontrol minyak serta lemak jenuh, telur justru dapat menjadi sahabat tubuh bukan ancaman kesehatan seperti stigma yang pernah beredar.











