Ramadhan Fair XX Medan: Kuliner, UMKM, dan Hiburan Seru

banner 468x60

MEDAN, Radarjakarta.id – Langit malam di Medan bergetar. Tabuhan bedug bersahut-sahutan, sorak warga pecah, dan ribuan pasang mata tertuju ke satu panggung besar di jantung kota. Di tengah gemuruh itu, Wali Kota Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Wakil Wali Kota Zakiyuddin Harahap resmi menggebrak pembukaan Ramadhan Fair XX di Taman Sri Deli, Rabu (25/2/2026).

Malam itu bukan sekadar seremoni. Itu adalah deklarasi: Ramadan di Medan resmi dimulai dengan ledakan ekonomi, syiar agama, dan pesta rakyat yang menyatu dalam satu ruang.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Ramadan Fair XX: Bukan Pasar Malam Biasa

Selama dua dekade, Ramadhan Fair telah menjelma menjadi ikon tahunan kota. Namun tahun ke-20 ini terasa berbeda. Pemerintah Kota Medan menegaskan, event ini bukan hanya rutinitas, melainkan mesin penggerak ekonomi umat.

Sepanjang sekitar 100 meter kawasan Jalan Masjid disulap total. Ratusan tenda UMKM berjajar, lampu temaram menggantung, aroma takjil dan kuliner khas Medan menyeruak di udara. Interaksi hangat antara pedagang dan pembeli menghadirkan suasana Ramadan yang otentik—penuh rindu, penuh harap.

Sebanyak 150 gerai kuliner dan 21 stand kriya dari berbagai kecamatan ambil bagian. Perputaran uang ditargetkan melonjak signifikan selama 25 Februari hingga 16 Maret 2026.

Dalam pidatonya, Rico Waas menegaskan Ramadhan Fair harus memberi dampak nyata.

“Kami ingin Ramadhan Fair ke-XX ini bukan hanya agenda tahunan. Perputaran ekonomi harus hidup dan benar-benar menguntungkan masyarakat, khususnya UMKM,” tegasnya.

Pernyataan itu disambut tepuk tangan panjang. Publik menangkap pesan jelas: ini panggung ekonomi rakyat.

Kemenag Turun Tangan, Syiar dan Ekonomi Disatukan

Dukungan penuh juga datang dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Medan, Impun Siregar. Kehadirannya mempertegas bahwa Ramadhan Fair bukan sekadar festival kuliner, tetapi ruang syiar Islam dan penguatan spiritual.

Menurutnya, kegiatan ini adalah kombinasi strategis antara dakwah dan pemberdayaan ekonomi.

“Ini bukan hanya syiar Islam, tetapi juga momentum memperkuat ekonomi umat dan ukhuwah Islamiyah,” ujarnya.

Setiap sore mulai pukul 17.00 WIB, warga memadati lokasi hingga menjelang berbuka. Setelah jeda salat tarawih, aktivitas kembali menggeliat hingga pukul 00.00 WIB. Tausyiah, kultum, hingga lomba bernuansa Islami mengisi panggung utama, menjadikan kawasan ini hidup hampir tanpa jeda.

Haddad Alwi Guncang Panggung, Ribuan Warga Terpukau

Atmosfer kian membuncah saat artis religi Haddad Alwi melantunkan selawat. Ribuan pengunjung larut dalam lantunan religi yang menggetarkan, menjadikan pembukaan Ramadhan Fair XX sebagai salah satu malam paling meriah di Medan tahun ini.

Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan berbagai organisasi keagamaan turut hadir, mempertegas sinergi lintas elemen dalam menghidupkan Ramadan.

Denyut Ekonomi di Balik Cahaya Ramadan

Di balik cahaya lampu tenda dan riuh transaksi, ada harapan besar: UMKM bangkit, ekonomi bergerak, dan kebersamaan warga semakin kuat. Ramadhan Fair XX kini bukan hanya tradisi ia telah menjadi simbol ketahanan ekonomi berbasis komunitas.

Medan tidak sekadar menyambut Ramadan. Kota ini menyalakan mesin perputaran rezeki.

Dan dari Taman Sri Deli, denyut itu terdengar jelas: Ramadan adalah berkah, Ramadan adalah kebangkitan.|Budi Pakecos*

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.