Oleh: Muhammad Reza
Pengamat Sosial-Politik Universitas Ibnu Chaldun
Ramadhan selalu datang dengan janji pemurnian. Ia hadir sebagai jeda, sebagai ruang hening di tengah riuhnya kehidupan. Kita menahan lapar sepanjang hari, menahan haus, menahan diri. Namun, ada satu paradoks yang jarang kita sadari, saat kita menahan konsumsi pada siang hari, justru pada malam hari kita sering mengkompensasinya dengan konsumsi yang lebih besar.
Meja makan menjadi lebih penuh dari biasanya. Pusat perbelanjaan lebih ramai dari bulan-bulan lain. Pengeluaran meningkat, seolah-olah lapar di siang hari harus dibayar lunas dengan kepuasan di malam hari.
Kita memang puasa secara biologis, namun tidak berpuasa secara eksistensial. Tubuh berhenti mengonsumsi, sementara kesadaran masih bergerak dalam logika pemuasan. Yang bergeser hanya waktu pemenuhannya.
Akhirnya Puasa tinggal menjadi rutinitas tahunan yang tak membatin. Pada titik inilah ritual kehilangan daya ubahnya. Ia tetap dijalankan tanpa sungguh-sungguh dialami.
Barangkali inilah yang dimaksud Erich Fromm ketika melihat manusia modern yang tetap setia pada ritualnya, namun perlahan kehilangan maknanya. Bentuknya bertahan, tetapi tidak lagi bekerja sebagai kekuatan yang mengubah kesadaran. Ia ditunaikan, tetapi tidak menghidupkan.
Ramadhan dalam Logika Konsumerisme
Di sisi lain, kita hidup dalam dunia yang digerakkan oleh konsumsi. Segala sesuatu didorong untuk dibeli, ditampilkan, dan dipertukarkan. Bahkan momen spiritual pun tidak luput dari logika ini.
Ramadhan pun hadir di tengah pusaran ini sebagai lebih dari sekadar bulan ibadah. Ia juga menjelma menjadi musim pasar. Industri makanan, fashion, dan gaya hidup menjadikannya momentum utama.
Simbol-simbol religius perlahan masuk ke dalam sistem komoditas, dan kesalehan mulai tampil sebagai identitas sosial, bukan lagi semata pengalaman batin.
Dalam kritiknya terhadap kapitalisme, Karl Marx menyebut gejala ini sebagai fetisisme komoditas. Benda-benda melampaui fungsi praktisnya dan memperoleh beban simbolik. Ia menjadi penanda status, prestise, bahkan cara manusia menilai dirinya sendiri.
Di titik ini, relasi manusia dan benda mengalami pembalikan. Benda tidak lagi hadir sebagai alat, melainkan ikut menentukan cara manusia memandang dirinya. Yang sakral perlahan menjelma simbol. Yang spiritual berangsur menjadi citra.
Konsumerisme mengubah lebih dari sekadar pola hidup. Ia juga membentuk cara manusia merasakan makna. Ia menjanjikan kepuasan, namun menyisakan lingkaran keinginan yang terus bergerak. Setiap pemenuhan segera digantikan oleh hasrat berikutnya.
Di sanalah ironi itu menemukan bentuknya. Puasa, yang semestinya melatih kesederhanaan, justru hadir berdampingan dengan budaya pemuasan tanpa batas.
Setelah Ramadhan berlalu, sering kali tidak ada yang benar-benar berubah. Kita kembali pada pola yang sama, pada ritme yang sama, pada kegelisahan yang sama.
Seolah-olah puasa hanya lewat di tubuh, dan tidak sempat masuk ke dalam kesadaran.
Mengembalikan Makna Puasa
Pada akhirnya, puasa bukan sekadar menahan lapar. Puasa adalah upaya untuk memulihkan kembali posisi manusia di hadapan dirinya sendiri. Ia adalah latihan untuk melepaskan ketergantungan, untuk membuktikan bahwa manusia tidak sepenuhnya tunduk pada dorongan dan keinginan.
Puasa membuka ruang bagi manusia untuk melihat dirinya dengan lebih jernih. Dalam jarak itu, ia menemukan bahwa dirinya tidak berhenti pada dimensi material, dan bahwa kebebasan selalu dimulai dari kemampuan untuk tidak selalu mengikuti setiap hasrat.
Di sanalah makna puasa menemukan bentuknya, menolak menjadi hamba bagi nalurinya dan segala hal yang mereduksi kemanusiannya.
Pertanyaan yang tersisa kemudian menjadi lebih sunyi dan personal, apakah puasa sungguh meninggalkan jejak dalam diri kita, apakah ia menghadirkan pembebasan? atau hanya lewat sebagai rutinitas yang segera dilupakan.











