NGANJUK, Radarjakarta.id – Lonjakan kebutuhan bawang merah menjelang musim tertentu membuat petani dituntut lebih cermat dalam budidaya. Tak sedikit yang gagal panen akibat teknik yang kurang tepat. Padahal, dengan langkah sederhana namun terukur, hasil panen bisa meningkat drastis baik dari segi jumlah maupun kualitas.
Kunci utama dimulai dari pemilihan varietas dan bibit. Petani disarankan menggunakan varietas unggul seperti Bima Brebes, Tajuk, atau Bauji yang terbukti adaptif di iklim tropis dan tahan terhadap serangan hama. Bibit yang digunakan harus sehat, berukuran ideal 1,5–2 cm, serta bebas penyakit. Pemotongan ujung umbi juga menjadi trik penting untuk mempercepat pertumbuhan tunas.
Tahap berikutnya adalah pengolahan lahan yang tak boleh diabaikan. Tanah harus dibuat gembur dengan bedengan setinggi 20–30 cm agar drainase optimal. Tingkat keasaman tanah ideal berada di kisaran pH 5,5–6,5. Untuk meningkatkan kesuburan, petani perlu menambahkan pupuk kandang atau kompos serta pupuk NPK sebagai dasar nutrisi awal.
Perawatan tanaman menjadi penentu keberhasilan berikutnya. Penyiraman harus dilakukan rutin, namun tidak berlebihan saat umbi mulai membesar agar terhindar dari pembusukan. Pemupukan susulan juga wajib diberikan, terutama pada fase awal pertumbuhan dan saat pembentukan umbi dengan kandungan kalium tinggi.
Selain itu, pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan secara disiplin. Serangan thrips, lalat bawang, hingga penyakit busuk leher sering menjadi ancaman serius. Oleh karena itu, pemantauan rutin serta penggunaan metode pengendalian terpadu, baik alami maupun kimia, sangat dianjurkan untuk menjaga tanaman tetap sehat.
Memasuki masa panen, petani perlu jeli membaca tanda-tanda kesiapan tanaman. Bawang merah siap dipanen ketika daun mulai menguning dan layu. Setelah dicabut, proses pengeringan menjadi tahap krusial sebelum penyimpanan agar kualitas tetap terjaga dan umur simpan lebih panjang.
Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut secara konsisten, peluang mendapatkan panen bawang merah yang melimpah dan berkualitas tinggi semakin terbuka lebar. Di tengah tantangan cuaca dan harga pasar yang fluktuatif, strategi budidaya yang tepat menjadi senjata utama petani untuk meraih keuntungan maksimal.***
Sumber berita: Harianto & Novi Safitriani, Dusun Dorogeneng desa Pehserut, kecamatan Sukomoro, Nganjuk Jatim, Minggu (22/3/2026).











