Tekanan pada Stabilitas Ekonomi
Ketidakpastian global juga berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan domestik. Menurut Deodatus, kondisi tersebut dapat memicu pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatkan beban utang luar negeri, sekaligus memengaruhi aktivitas investasi dan pasar saham.
“Dalam situasi seperti ini pemerintah harus memiliki strategi ekonomi yang kuat agar gejolak global tidak langsung memukul daya beli masyarakat,” katanya.
Tantangan Fiskal dan Beban Utang
Di sisi lain, Deodatus juga menyoroti besarnya kewajiban pembayaran utang pemerintah yang jatuh tempo pada 2026. Nilai pembayaran utang yang besar, menurutnya, berpotensi membatasi ruang fiskal pemerintah untuk menjalankan berbagai program sosial.
“Pemerintah harus mampu menyeimbangkan antara kewajiban fiskal dan komitmen terhadap program kesejahteraan rakyat. Jangan sampai pembayaran utang menjadi alasan untuk mengurangi program yang sangat dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.
Dorongan Sikap Tegas Pemerintah
GMNI Jakarta mendorong pemerintah agar lebih tegas dalam menentukan kebijakan ekonomi dan hubungan internasional, terutama yang berdampak pada kepentingan domestik.
“Pemerintah harus memastikan bahwa kedaulatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat tetap menjadi prioritas utama. Program seperti MBG jangan sampai hanya menjadi janji politik tanpa realisasi,” tegas Deodatus.
Ia menambahkan, pemerintah perlu memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional agar tidak terlalu rentan terhadap tekanan geopolitik global.











