Program MBG Disorot, GMNI Jakarta Ingatkan Risiko Tekanan Geopolitik

Ketua DPD GMNI Jakarta, Deodatus Sunda Se. (Foto: Ist)
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump disebut-sebut memberi dampak pada dinamika ekonomi dan kebijakan domestik Indonesia, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi janji politik pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Ketua DPD Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta, Deodatus Sunda menilai tekanan geopolitik global dan kondisi fiskal nasional berpotensi mengganggu realisasi program tersebut.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Program MBG yang menjadi janji politik utama pemerintah berpotensi terganggu jika tekanan geopolitik dan fiskal tidak dikelola dengan baik. Pemerintah seharusnya menunjukkan sikap yang tegas agar kepentingan rakyat tidak dikorbankan,” ujar Deodatus dalam keterangannya, Selasa (10/3/2026).

Sorotan pada Perjanjian Internasional

Menurut Deodatus, salah satu faktor yang memicu kekhawatiran adalah keterlibatan Indonesia dalam sejumlah kerja sama internasional yang dinilai berpotensi membebani anggaran negara.

Ia mencontohkan keterlibatan Indonesia dalam forum keamanan internasional seperti Board of Peace (BoP) serta kesepakatan perdagangan Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang disebut-sebut memuat kebijakan tarif resiprokal hingga 19 persen pada sejumlah komoditas tertentu.

Deodatus menilai klausul dalam kesepakatan tersebut berpotensi mendorong perubahan berbagai regulasi dalam negeri demi menyesuaikan standar pasar Amerika Serikat.

“Jika perjanjian perdagangan yang bersifat asimetris terus menekan ruang fiskal Indonesia, maka program-program sosial yang langsung menyentuh rakyat, seperti MBG, bisa menjadi korban pengalihan anggaran,” katanya.

Dampak Geopolitik terhadap Energi

Selain faktor perdagangan, situasi geopolitik global juga dinilai memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia. Ketegangan antara blok Amerika Serikat dan sekutunya dengan Iran disebut berpotensi mengganggu jalur perdagangan energi dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah yang menjadi jalur utama distribusi minyak global.

Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia dinilai rentan terhadap gejolak harga energi dan gangguan distribusi. Kondisi tersebut dapat berdampak pada kenaikan biaya impor, produksi industri, hingga harga kebutuhan pokok.

“Ketika jalur energi global terganggu, negara seperti Indonesia yang masih bergantung pada impor energi akan merasakan dampak yang sangat besar,” ujar Deodatus.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.