JAKARTA, Radarjakarta.id — Di balik keterbatasan fisik dan intelektual, semangat juang siswa-siswi SLB Negeri 10 Jakarta justru melampaui batas. Sekolah yang beralamat di Jalan Kumbang Raya, Pegadungan, Kecamatan Kalideres, Kota Jakarta Barat ini menjelma menjadi pusat lahirnya prestasi anak-anak disabilitas yang mengharumkan nama Jakarta, bahkan Indonesia.
Di bawah kepemimpinan kepala Sekolah, Muhammad Bachrun, SLB Negeri 10 Jakarta menunjukkan geliat luar biasa. Meski terbilang baru menjabat secara efektif sejak Desember, sang kepala sekolah yang sebelumnya bertugas di SLB Negeri 8 Jakarta Utara langsung menegaskan satu visi utama: membangun kemandirian dan prestasi anak disabilitas.
“Tujuan utama pendidikan di SLB adalah kemandirian. Anak-anak kami dididik agar tidak bergantung pada orang lain, mampu merawat diri, bekerja, dan hidup layak di tengah masyarakat,” ujarnya, kepada Radar Jakarta, Kamis (18/12).
Tak hanya fokus pada kemandirian, SLB Negeri 10 Jakarta juga mencatatkan prestasi membanggakan. Sejumlah siswa telah menembus kejuaraan tingkat provinsi, nasional, bahkan internasional, khususnya di cabang tenis meja. Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa anak-anak berkebutuhan khusus mampu bersaing dan berprestasi jika diberi kesempatan yang setara.
Sekolah ini melayani hampir seluruh ragam disabilitas, mulai dari tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, hingga autisme. Dengan pendekatan pendidikan individual dan program khusus sesuai kebutuhan siswa, setiap anak dibimbing secara intensif, termasuk dalam keterampilan dasar seperti merawat diri, menghindari bahaya, hingga kesiapan kerja.
“Prestasi itu penting, tapi yang utama adalah anak-anak kami bisa mandiri. Jika kelak mereka bisa bekerja, meski sebagai cleaning service sekalipun, itu sudah menjadi kebanggaan besar bagi kami,” tambahnya dengan mata berkaca-kaca.
SLB Negeri 10 Jakarta juga menjadi potret kemajuan perhatian pemerintah terhadap pendidikan disabilitas. Di DKI Jakarta kini terdapat 13 SLB Negeri, dengan fasilitas yang semakin baik. Namun demikian, keterbatasan kuota masih menjadi tantangan, mengingat tingginya minat orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah negeri.
Di momen Hari Disabilitas Internasional setiap 3 Desember, kisah SLB Negeri 10 Jakarta menjadi pengingat kuat bahwa inklusi bukan sekadar jargon. Di sekolah ini, anak-anak disabilitas tidak hanya diajarkan bertahan hidup, tetapi didorong untuk berprestasi, bermimpi, dan berdiri sejajar dengan siapa pun.
SLB Negeri 10 Jakarta membuktikan satu hal penting:
Disabilitas bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari prestasi yang luar biasa***.











