JAKARTA, Radarjakarta.id — PT Pertamina (Persero) memastikan operasional perusahaan dan ketahanan pasokan energi nasional tetap terjaga di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, menyusul langkah Iran menutup Selat Hormuz bagi pelayaran internasional.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan perseroan terus berkoordinasi dengan berbagai otoritas terkait guna memastikan kelancaran operasional di tengah dinamika keamanan kawasan yang berpotensi memengaruhi rantai pasok energi global.
“Pertamina telah menyiapkan langkah mitigasi risiko serta memperkuat komunikasi dengan Kementerian Luar Negeri, KBRI, KJRI, dan otoritas setempat untuk menjaga kelancaran operasional dan keamanan kru,” ujar Baron dalam keterangan resmi, Selasa (3/3/2026).
Baron menjelaskan, terdapat tiga unit bisnis strategis yang bersinggungan langsung dengan dinamika di kawasan tersebut. Pertama, PT Pertamina International Shipping (PIS) yang menangani aktivitas pengangkutan energi global. Kedua, Pertamina Internasional EP (PIEP) yang menjalankan operasi hulu di Basra, Irak. Ketiga, Pertamina Patra Niaga yang bertugas dalam pengadaan minyak mentah dan produk dari kawasan Timur Tengah.
Untuk mengantisipasi potensi gangguan, Pertamina mengandalkan portofolio sumber energi yang terdiversifikasi, baik dari produksi domestik maupun dari berbagai negara mitra. Strategi ini dinilai memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan suplai nasional.
Selain itu, operasional kilang dalam negeri juga terus dioptimalkan guna menjaga keseimbangan produksi dan distribusi bahan bakar minyak (BBM) serta LPG ke seluruh wilayah Indonesia.
“Sebagai garda terdepan energi nasional, Pertamina memperketat pengawasan dan memastikan ketahanan pasokan crude, BBM, dan LPG tetap aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” tegas Baron.
Sebagaimana diketahui, Iran menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis bagi sekitar 20 persen pasokan minyak global. Penutupan tersebut diberlakukan hingga waktu yang belum ditentukan sebagai respons atas agresi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).
Meski demikian, Pertamina memastikan kondisi pasokan energi nasional dalam keadaan aman dan terus dipantau secara ketat guna mengantisipasi perkembangan situasi global.











