Rudal balasan hantam pangkalan AS di Qatar, Sabtu (28/2).
JAKARTA, Radarjakarta.id – Konflik yang selama ini hanya membara di meja diplomasi akhirnya meledak di medan tempur. Sabtu pagi waktu setempat, Israel Defense Forces (IDF) melancarkan serangan mendadak ke sejumlah titik strategis di Iran. Ledakan mengguncang Teheran, sementara Washington dikonfirmasi ikut terlibat dalam operasi militer tersebut.
Media pemerintah Iran melaporkan dentuman keras terdengar di pusat ibu kota. Target utama disebut mencakup fasilitas Direktorat Intelijen Garda Revolusi serta infrastruktur militer sensitif. Sebagai respons, Iran langsung menutup wilayah udaranya dan meningkatkan status siaga nasional.
Di saat yang sama, IDF mengirim peringatan darurat kepada seluruh warga Israel untuk tetap berada di dekat ruang perlindungan. “Ini langkah proaktif menghadapi kemungkinan peluncuran rudal ke arah Israel,” tulis pernyataan resmi militer Israel.
Sumber keamanan Israel menyebut operasi yang diberi sandi “Perisai Yehuda” telah dirancang selama berbulan-bulan. Fokus utamanya: melumpuhkan peluncur rudal balistik dan pangkalan drone yang dinilai menjadi ancaman langsung bagi Israel.

Rudal Iran Membalas
Tak butuh waktu lama, balasan datang. Beberapa rudal Iran dilaporkan diarahkan ke pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Ketegangan meningkat tajam, terutama di sekitar Selat Hormuz—jalur vital energi dunia.
Militer Iran sebelumnya memang telah menempatkan sistem rudal di dekat perbatasan Irak serta memperkuat pertahanan pesisir Teluk Persia. Latihan militer intensif digelar dalam beberapa pekan terakhir, sebagai sinyal bahwa Teheran siap menghadapi skenario terburuk.
Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan telah dipindahkan ke lokasi aman. Langkah ini mempertegas bahwa Teheran memandang serangan sebagai ancaman eksistensial.
Diplomasi Gagal, Armada Dikerahkan
Sebelum dentuman pertama terdengar, jalur diplomasi sebenarnya masih dibuka. Perundingan antara Washington dan Teheran di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan baru terkait isu pengayaan uranium.
Memasuki Februari 2026, Presiden AS Donald Trump menginstruksikan pengerahan armada tempur terbesar ke Timur Tengah sejak invasi Irak 2003. Dua kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford—siaga penuh di kawasan.
Di Washington sendiri, perdebatan memanas. Pentagon memperingatkan risiko konflik berkepanjangan, sementara Gedung Putih menegaskan semua opsi tetap terbuka: dari serangan terbatas hingga operasi yang lebih luas.

Israel: Jangan Remehkan Iran
Mantan Komandan Angkatan Udara Israel, Amikam Norkin, sebelumnya sudah mengingatkan bahwa kemampuan militer Iran bukan lagi ancaman konvensional biasa.
“Iran memiliki teknologi canggih rudal presisi, drone, dan kemampuan siber. Ini wake-up call bagi kita,” ujarnya dalam wawancara dengan media Israel.
Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Serangan rudal Iran pada Juni 2025 yang menghantam kompleks apartemen mewah Da Vinci Towers di Tel Aviv menjadi bukti daya jangkau dan presisi sistem balistik Teheran.
Iran Siapkan Suksesi Darurat
Laporan terbaru menyebut Teheran telah menyiapkan rantai komando darurat jika pucuk pimpinan negara menjadi target. Nama Ali Larijani disebut mendapat mandat luas mengoordinasikan respons krisis, termasuk jalur diplomasi dan militer.
Langkah ini menunjukkan Iran tak hanya bersiap menghadapi serangan, tetapi juga kemungkinan eskalasi penuh.
Dunia Menahan Napas
Kini pertanyaan terbesar: apakah konflik ini akan berhenti pada serangan terbatas, atau berubah menjadi perang regional berskala besar?
Jika korban jiwa dari pihak Amerika meningkat, tekanan politik terhadap Trump untuk memperluas operasi militer hampir tak terhindarkan. Di sisi lain, perang terbuka berisiko mengguncang pasar energi global dan memicu instabilitas luas di Timur Tengah.
Semenanjung Persia kembali menjadi episentrum krisis dunia. Dan kali ini, pelatuknya sudah ditarik.***











