MUZDALIFAH, Radarjakarta.id – Kekacauan kembali terjadi dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Ribuan jemaah haji, termasuk dari Kota Bogor, terpaksa berjalan kaki dari Muzdalifah menuju Mina pada Jumat (6/6/2025) dini hari karena tak kunjung mendapatkan armada bus penjemputan.
Salah satu jemaah asal Bogor, Turmudi Hudri, mengungkapkan bahwa sejak selesai melaksanakan salat Subuh, para jemaah telah menunggu bus hingga pukul 06.00 pagi waktu setempat. Namun karena tidak ada kepastian, situasi menjadi tidak terkendali.
“Tidak ada jemputan, tidak ada yang bisa dikoordinasikan. Akhirnya semua jalan kaki. Pintu pengangkutan bahkan dijebol oleh jemaah yang frustrasi,” ujar Turmudi saat dihubungi.
Ia menuturkan perjalanan menuju Mina memakan waktu lebih dari satu jam dalam kondisi fisik yang sudah kelelahan usai wukuf di Arafah. Penumpukan massa dan kemacetan membuat situasi semakin sulit.
Penyelenggara Lokal Dinilai Abai
Turmudi juga menyampaikan kekecewaannya terhadap pihak syarikah penyelenggara pelayanan di Arab Saudi yang dinilainya tidak bertanggung jawab dalam menangani transportasi jemaah.
“Syarikat sama sekali tidak bertanggung jawab. Pemerintah Indonesia harus menegur keras agar kejadian seperti ini tidak terulang,” tegasnya.
Pagar Roboh, Jemaah Pingsan
Kekacauan tidak hanya terjadi saat perjalanan ke Mina. Sehari sebelumnya, saat jemaah diberangkatkan dari Arafah menuju Muzdalifah untuk melaksanakan mabit (bermalam), situasi serupa juga terjadi.
Aini Kusuma, jemaah haji lainnya, mencatat dalam catatan hajinya bahwa antrean untuk keluar dari Muzdalifah berlangsung hingga dini hari. Pintu gerbang bahkan belum dibuka hingga pukul 03.00 waktu setempat.
“Kami seharusnya bisa keluar dari Muzdalifah jam 12 malam. Tapi kami sudah antre sampai jam 3 pagi, gate belum dibuka,” ujar Aini.
Karena desakan massa, sebuah pagar di area Muzdalifah roboh. Beberapa jemaah dilaporkan pingsan akibat kelelahan dan dehidrasi.
Mabit dan Lempar Jumrah Tetap Dilaksanakan
Meski dalam kondisi penuh tantangan, jemaah tetap berusaha menunaikan mabit, salah satu kewajiban dalam rukun haji. Praktik ini juga dianjurkan dalam Al-Qur’an, surat Al-Baqarah ayat 199. Di lokasi tersebut, jemaah beristirahat dan memungut kerikil untuk prosesi lempar jumrah di Mina.
“Selama di Muzdalifah, jemaah disunnahkan memungut 70 kerikil kecil untuk lempar jumrah pada 11 hingga 13 Zulhijjah,” jelas Aini.
Aini menambahkan, walau situasi cukup kondusif di tengah keramaian, kelelahan fisik setelah wukuf di Arafah membuat antrean bus menjadi ujian tersendiri.
“Mabit itu bisa sebentar, yang penting sempat singgah. Tapi menunggu bus terlalu lama dalam kondisi lelah sangat berat bagi jemaah,” katanya.
Pemerintah Diminta Bertindak Tegas
Insiden ini menambah daftar panjang persoalan teknis dalam penyelenggaraan haji yang menjadi perhatian serius. Pemerintah Indonesia diharapkan segera melakukan evaluasi dan menegur keras penyelenggara layanan lokal yang gagal menjalankan tugasnya dengan baik.
Selanjutnya, para jemaah dijadwalkan melanjutkan ibadah dengan prosesi lempar jumrah aqobah pada 10 Zulhijjah di Mina. | Andi Farida*
Penjemputan Jemaah di Muzdalifah Kacau, Ribuan Orang Terpaksa Jalan Kaki ke Mina










