NGAWI, Radarjakarta.id – Suasana tenang di Desa Tepas, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, mendadak berubah mencekam. Seorang pemuda berinisial JP (35) diduga mengalami depresi dan mengamuk sambil membawa senjata tajam (sajam), hingga membuat warga panik dan ketakutan, Senin (23/02/2026).
Peristiwa ini terjadi di wilayah hukum Polsek Geneng, jajaran Polres Ngawi, Polda Jawa Timur. Laporan warga menyebutkan JP melempari genteng rumah menggunakan batu dan pecahan bata, sembari membawa sajam yang dinilai membahayakan keselamatan sekitar.
Warga Resah, Aparat Bergerak Cepat
Kapolsek Geneng AKP Haris Sunarto, S.H., bersama anggota dan tim Sabhara Polres Ngawi, Kepala Desa Tepas, serta petugas Puskesmas Geneng langsung mendatangi lokasi setelah menerima laporan.
Pendekatan dilakukan secara humanis dan persuasif untuk meredam situasi. Setelah kondisi dinyatakan aman, JP berhasil diamankan tanpa menimbulkan korban jiwa.
“JP sempat mengamuk dan melempari genteng rumah warga menggunakan batu serta membawa senjata tajam. Tindakan tersebut tentu meresahkan dan berpotensi membahayakan masyarakat,” ujar AKP Haris Sunarto kepada wartawan.
Dievakuasi ke RSUD dan Ditangani Medis
Guna memastikan kondisi kejiwaan dan keselamatan yang bersangkutan, JP kemudian dievakuasi ke RSUD dr. Soeroto Ngawi untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan medis lebih lanjut.
Polisi juga berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Ngawi untuk penanganan lanjutan, mengingat dugaan bahwa JP mengalami gangguan psikologis.
Langkah cepat aparat mendapat apresiasi warga. Silvia Ade Monica Sari, salah satu warga setempat, membenarkan bahwa JP kerap mengamuk dan melempari rumah warga.
“Kami merasa takut karena dia membawa sajam. Akhirnya kami melapor agar cepat diamankan dan lingkungan kembali kondusif,” ujarnya.
Situasi Kembali Kondusif
Setelah proses evakuasi, situasi di Desa Tepas kembali aman dan terkendali. Kepolisian mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, serta segera melapor melalui layanan 110 apabila menemukan kejadian serupa.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya penanganan kesehatan mental secara serius dan kolaboratif, agar tidak berkembang menjadi ancaman bagi keselamatan publik.|Titik*











