Benny pun menjelaskan bahwa kerja sama dan persatuan sebenarnya sudah dilaksanakan oleh anak muda.
“Lihat waktu covid melanda. Anak-anak muda menggalang dana, membantu bersama-sama, sampai pengiriman obat, vitamin, makann, dan tabung oksigen pun, itu atas bantuan anak-anak muda. Itulah penghayatan Pancasila; tidak muluk Pancasila soal hafalan, tetapi aplikasi, dan yang dilakukan anak muda ini merupakan sebuah penghayatan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” jabarnya.
Dia malah menyayangkan generasi sebelumnya yang tidak menjadi role model.
“Yang kurang malah kita; kita tidak menjadi contoh bagi mereka. Kita malah sibuk dan tidak menyadari mereka (generasi muda) tidak punya contoh bagaimana penghayatan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” tukasnya.
Staf Khusus ketua Dewan Pengarah BPIP ini merujuk pada penggunaan media sosial dan teknologi yang dipakai oleh anak muda menjadi tindakan yang dapat berdampak positif.
“Melek digital, dan dalam satu bahasa persatuan dan persaudaraan sejati, bahasa kemanusiaan. Ini yang ditunjukkan anak muda sekarang. Mereka tidak suka kemunafikan, mereka butuh bukti nyata, bukan OMDO. Itu menjadi refleksi bagi para elit politik juga, yang kerap kali memakai bahasa persatuan untuk memanipulasi.”
“Pemerintah juga sebaiknya memberikan sarana dan prasarana serta akses agar anak muda terus berkembang dengan juga memiliki jiwa kritis.”
Pemuda Indonesia Pengerak Persatuan dan Kesatuan










