Perkantoran: Okupansi CBD Capai 76 Persen
Di sektor perkantoran, tren penyerapan ruang menunjukkan peningkatan, khususnya di kawasan pusat bisnis (CBD).
Co-Head of Office Services CBRE Indonesia, Judy Sinurat mengungkapkan bahwa relokasi dan ekspansi ke gedung berkualitas tinggi menjadi pendorong utama kenaikan okupansi.
“Properti di kawasan CBD mencatat peningkatan penyerapan, terutama karena perpindahan kantor dan ekspansi ke gedung-gedung dengan kualitas lebih baik. Tingkat okupansi di CBD mencapai sekitar 76 persen pada akhir 2025,” ujar Judy.
Sementara itu, Co-Head of Office Services lainnya, Albert Dwiyanto, menyebutkan bahwa kawasan non-CBD juga menunjukkan perbaikan.
“Wilayah non-CBD mengalami kenaikan okupansi menjadi sekitar 74 persen, didorong permintaan stabil dari penyewa yang mengutamakan lokasi strategis,” jelas Albert.
Keduanya sepakat bahwa tren positif ini akan berlanjut hingga 2026, terutama dengan adanya permintaan dari sektor manufaktur, energi, teknologi, dan jasa.
Industri dan Logistik: Permintaan Tetap Kuat
Kinerja sektor industri dan logistik juga mencatat performa impresif. Head of Industrial Services CBRE Indonesia, Ivana Soesilo, menyampaikan bahwa lonjakan investasi di sektor manufaktur, e-commerce, dan FMCG menjadi motor utama pertumbuhan.
“Indonesia semakin diposisikan sebagai pusat produksi kendaraan listrik dan basis e-commerce yang berkembang pesat. Hal ini mendorong peningkatan kebutuhan lahan industri dan fasilitas logistik modern,” kata Ivana.
Sepanjang 2025, penyerapan lahan industri tercatat sekitar 218 hektare, sementara tingkat okupansi pusat logistik mencapai sekitar 95 persen.
“Harga lahan industri dan sewa logistik relatif stabil, meski mulai terlihat tekanan akibat pasokan yang belum sepenuhnya mampu mengejar pertumbuhan permintaan,” tambahnya.










