Radarjakarta.id | DAIRI – Hari ke-10 kampanye Pemilihan Legisllatif (Pileg) 2024, St. Nikson Silalahi caleg DPR RI Partai Gerindra turun ke daerah pemilihan (Dapil) Sumut 3 bertatap muka dan berdialog dengan para pendukungnya satu minggu terakhir ini.
Putra DAIRI itu selalu memberikan optimisme besar kepada tim pendukungnya dan masyarakat yang ia jumpai di daerah pemilihannya.
Dalam pertemuan dengan pendukung, menurut tim yang mendampingi St. Nikson Silalahi, cara komunikasi yang santai dan banyak guyon membuat acara-acara yang menghadirkan St. Nikson Silalahi penuh dengan kegembiraan.
Ucapan lugas dan apa adanya membuat dialog dengan masyarakat yang dijumpai hangat dan interaktif.
“Sekian hari perjalanan mendampingi pak Nikson ke beberapa tempat jumpa masyarakat dan tiba di rumah menginap sekitar jam 02.00 atau 03.00 WIB tidak terasa melelahkan, karena dialog dan diskusi dengan pak Nikson selalu penuh canda dan tawa,” ujar Nalom Sihombing salah satu tim pemenangan St. Nikson dalam keterangan tertulisnya kepada Radarjakarta.id, Kamis (7/12/2023).
“Selain meminta dukungan masyarakat untuk memilih, Ito Nikson dalam ucapan-ucapannya juga mengedukasi para pemilih agar dalam melakukan peran sertanya di Pemilu 2024 tetap menjaga suasana damai dan saling menghormati,” imbuh tim pemenangan yang lain bernama Sondang Silalahi di Sidikalang.

St. Nikson Silalahi mendapatkan nomor urut 2 dalam pencalegan DPR RI dari Partai Gerindra Dapil Sumut 3 yang meliputi 10 Kabupaten/Kota.
Yaitu Dairi, Pakpak Bharat, Karo, Simalungun, Kota Siantar, Asahan, Batubara, Kota Tanjung Balai, Langkat, dan Kota Binjai.
St. Nikson Silalahi yang lahir dan besar di Parongil, SD-SMA di Parongil cukup dikenal sebagai sosok berprestasi dan pernah mengharumkan Kabupaten DAIRI sampai tingkat nasional semasa duduk di bangku SMA Negeri Parongil.
Setelah menjadi pengusaha di Jakarta, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gerakan Kristiani Indonesia Raya (Gekira), organisasi sayap Partai Gerindra melalui Yayasan yang didirikannya yakni Yayasan Nikson Silalahi Parongil aktif melakukan kegiatan sosial yang disebutnya sebagai upaya “manggarar utang” (membayar utang) kepada kampung halaman.










