Munajat 10.000 Doa: Ikhtiar Moral Haidar Alwi untuk Bangsa

Dok. Ist
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Dalam perjalanan sosial dan spiritualnya, Haidar Alwi dikenal konsisten menghidupkan ruang doa bersama untuk pemimpin negeri. Kegiatan munajat kebangsaan bukan sekali dua kali dilakukan, melainkan telah berulang kali digelar di berbagai daerah sebagai ikhtiar batin rakyat untuk menjaga arah bangsa, menenangkan kegelisahan sosial, dan menautkan kembali hubungan antara rakyat, pemimpin, dan nilai ketuhanan.

Munajat-munajat tersebut lahir dari satu kesadaran mendasar: Indonesia tidak cukup dibangun hanya dengan kekuasaan dan kebijakan, tetapi juga membutuhkan doa, kebijaksanaan, dan keberanian moral. Di tengah realitas bangsa yang terus diuji oleh tekanan ekonomi, dinamika politik, serta beban hidup masyarakat, doa menjadi fondasi sunyi yang menjaga agar perjalanan bangsa tidak kehilangan arah kemanusiaannya.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Kesadaran inilah yang menjadi latar mengapa pada 1 Januari 2026, ikhtiar tersebut kembali dilanjutkan dalam bentuk Munajat 10.000 Doa untuk Pemimpin Negeri. Momentum awal tahun dipilih bukan tanpa alasan. Pergantian tahun dimaknai sebagai titik refleksi, saat bangsa seharusnya tidak hanya menghitung waktu, tetapi juga menata ulang niat, arah, dan tanggung jawab bersama.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Ir. R. Haidar Alwi, MT selaku Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, sebagai wujud tanggung jawab moral untuk menjaga harapan bangsa melalui pendekatan spiritual yang membumi dan kerja sosial yang nyata.

Munajat sebagai Suara Batin Rakyat

Munajat 10.000 Doa dilaksanakan secara luas dan menyatu di berbagai wilayah Indonesia. Tidak terikat pada satu tempat, doa-doa dipanjatkan di masjid, majelis, dan ruang kebersamaan rakyat. Munajat ini menjadi suara batin kolektif: harapan agar Indonesia dipimpin dengan keadilan, keteguhan, dan keberpihakan pada rakyat.

Dalam munajat tersebut, doa pertama dipanjatkan untuk Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia. Doa dipersembahkan agar beliau senantiasa diberi kekuatan, kejernihan, dan keberanian dalam memimpin bangsa, menjaga kedaulatan nasional, serta mengambil keputusan strategis demi kepentingan jangka panjang Indonesia. Dalam pandangan Haidar Alwi, kepemimpinan nasional membutuhkan keberanian moral untuk memutus rantai ketergantungan lama dan menegakkan kemandirian bangsa.

Doa berikutnya ditujukan kepada Listyo Sigit Prabowo, Kapolri, Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Dalam munajat ini, Haidar Alwi kembali menegaskan keyakinannya bahwa Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo adalah Kapolri terbaik sepanjang masa versi Haidar Alwi Institute. Doa dipanjatkan agar Polri terus dipimpin dengan integritas, ketulusan, dan keberanian, sehingga kehadirannya benar-benar dirasakan sebagai pelindung dan pengayom rakyat.

Doa juga dipanjatkan untuk Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR RI. Sosok ini dipandang sebagai negarawan yang bekerja dalam ketenangan, menjauh dari kegaduhan, dan fokus pada substansi perjuangan rakyat. Di tengah dinamika politik yang sering bising, keteduhan dan konsistensi seperti inilah yang dibutuhkan untuk menjaga marwah parlemen dan kepercayaan publik.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.