Mojtaba Khamenei Resmi Pimpin Tertinggi Iran, Usai Wafatnya Ali Khamenei

banner 468x60

TEHERAN, Radarjakarta.id – Iran memasuki fase kepemimpinan baru setelah putra kedua pemimpin tertinggi sebelumnya, Mojtaba Khamenei, secara resmi ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran. Penunjukan tersebut dilakukan oleh Majelis Ahli Iran setelah wafatnya Ali Khamenei dalam serangan yang terjadi di Teheran beberapa waktu lalu.

Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama memiliki kewenangan konstitusional untuk memilih pemimpin tertinggi negara. Melalui keputusan lembaga tersebut, Mojtaba Khamenei yang kini berusia 56 tahun resmi memegang otoritas tertinggi dalam sistem politik Iran.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Dalam pernyataan resminya, Majelis Ahli mengajak masyarakat Iran untuk menjaga stabilitas nasional dan mendukung kepemimpinan baru.

“Kami menyerukan seluruh rakyat Iran, khususnya kalangan elit dan intelektual, untuk bersatu dan mendukung kepemimpinan Mojtaba Khamenei demi menjaga persatuan negara,” demikian pernyataan resmi yang disampaikan melalui media pemerintah Iran.

Sosok Berpengaruh di Lingkaran Kekuasaan

Selama ini, Mojtaba Khamenei dikenal sebagai figur yang memiliki pengaruh kuat di balik layar pemerintahan Iran. Meski jarang tampil di ruang publik dan tidak pernah mengikuti pemilihan umum, ia disebut memiliki hubungan dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), institusi militer yang memegang peranan penting dalam struktur keamanan dan politik Iran.

Pengamat menilai, penunjukan Mojtaba menunjukkan bahwa kelompok konservatif dan jaringan kekuasaan yang dekat dengan IRGC masih mempertahankan pengaruh dominan dalam pemerintahan Iran.

Latar Belakang dan Karier

Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, Iran. Ia merupakan putra dari Ali Khamenei, tokoh penting dalam Iranian Revolution yang menggulingkan pemerintahan Mohammad Reza Pahlavi.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah pada 1987, Mojtaba sempat bergabung dengan IRGC pada masa akhir Iran–Iraq War. Seusai perang, ia melanjutkan pendidikan agama di seminari Qom dan kemudian aktif mengajar serta membangun jaringan dengan kalangan ulama konservatif.

Dalam masa pemerintahan ayahnya, Mojtaba disebut memainkan peran penting di Kantor Pemimpin Tertinggi, terutama dalam menghubungkan berbagai lembaga keagamaan, militer, dan politik di Iran.

Pernah Jadi Sorotan Politik

Nama Mojtaba mulai mendapat perhatian luas ketika pemilihan presiden Iran tahun 2005 yang dimenangkan oleh Mahmoud Ahmadinejad. Saat itu, kandidat reformis Mehdi Karroubi menuduh adanya campur tangan jaringan kekuasaan yang dekat dengan Mojtaba.

Tuduhan serupa kembali mencuat pada pemilu 2009 yang memicu gelombang protes besar di berbagai kota Iran. Kelompok oposisi menilai aparat keamanan, termasuk jaringan yang terkait dengan IRGC dan Basij, berperan dalam meredam demonstrasi.

Hubungan Tegang dengan Amerika Serikat

Nama Mojtaba Khamenei juga pernah menjadi perhatian pemerintah Amerika Serikat. Pada 2019, pemerintah AS menjatuhkan sanksi terhadapnya karena dinilai memiliki peran dalam lingkaran kekuasaan Iran.

Saat itu Presiden AS, Donald Trump, menyatakan keberatan terhadap kemungkinan Mojtaba menjadi pemimpin Iran.

“Kami berharap Iran dipimpin oleh sosok yang mampu membawa stabilitas dan perdamaian,” kata Trump dalam wawancara dengan media internasional.

Tantangan Kepemimpinan Baru

Para pengamat menilai kepemimpinan Mojtaba Khamenei akan menghadapi tantangan besar, mulai dari stabilitas domestik hingga hubungan internasional yang masih tegang dengan negara-negara Barat.

Dengan latar belakang kuat di lingkungan ulama konservatif serta kedekatan dengan struktur militer Iran, arah kebijakan politik dan keamanan negara itu kini menjadi perhatian dunia internasional.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.