TEHERAN, Radarjakarta.id – Dunia kembali dibuat tegang setelah muncul kabar mengejutkan dari Teheran. Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, dikabarkan mengalami luka setelah rentetan serangan besar yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Namun pemerintah Iran buru-buru meredam spekulasi tersebut. Seorang pejabat senior menyebut kondisi Mojtaba tetap stabil dan masih memimpin negara.
Pernyataan itu disampaikan oleh penasihat pemerintah Iran, Yousef Pezeshkian, yang juga merupakan putra Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
“Saya mendengar kabar bahwa Bapak Mojtaba Khamenei terluka. Saya sudah menanyakan kepada beberapa rekan yang mengetahui situasinya. Alhamdulillah, beliau dalam keadaan aman dan sehat,” ujar Yousef melalui pernyataan di Telegram.
Serangan Mematikan dan Pergantian Kekuasaan
Situasi Iran memang sedang berada di titik paling genting dalam beberapa dekade terakhir. Serangan gabungan AS dan Israel yang dimulai sejak 28 Februari lalu mengguncang struktur kekuasaan Teheran.
Dalam operasi militer tersebut, sejumlah tokoh penting Iran dilaporkan tewas, termasuk pemimpin tertinggi sebelumnya, Ali Khamenei.
Kematian Ali Khamenei memicu pergantian kepemimpinan yang cepat. Hanya sepekan setelah wafatnya sang ayah, Majelis Ahli Iran memilih Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara itu.
Pria berusia 56 tahun tersebut memperoleh dukungan mayoritas lebih dari 80 persen suara dari lembaga ulama beranggotakan 88 orang.
Dengan pengangkatan itu, Mojtaba resmi menjadi pemimpin tertinggi ketiga Iran sejak Revolusi Iran 1979 yang mengubah Iran menjadi republik Islam.
Misteri “Luka Perang Ramadan”
Televisi pemerintah Iran sempat menyebut Mojtaba sebagai “janbaz”, istilah yang berarti seseorang yang terluka oleh musuh dalam pertempuran. Media negara menggambarkannya sebagai veteran yang mengalami luka dalam apa yang disebut sebagai “Perang Ramadan”.
Namun hingga kini, pemerintah tidak menjelaskan secara rinci kapan dan bagaimana luka tersebut terjadi.
Beberapa laporan media internasional bahkan menyebut Mojtaba kemungkinan terkena dampak serangan udara yang menargetkan fasilitas strategis di Teheran.
Iran Balas Serangan
Di tengah kabar tersebut, Iran tidak tinggal diam. Teheran melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer yang terkait dengan Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Konflik ini semakin memperbesar kekhawatiran dunia bahwa Timur Tengah sedang menuju eskalasi perang terbuka yang lebih luas.
Trump Ikut Campur
Kontroversi juga muncul dari Washington. Presiden AS, Donald Trump, secara terbuka menolak penunjukan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Trump bahkan menyebut keputusan Iran sebagai “kesalahan besar” dan menegaskan bahwa Mojtaba tidak akan mampu bertahan lama tanpa restu Amerika.
Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari Teheran yang menilai Washington tidak berhak ikut campur dalam proses suksesi kepemimpinan Iran.
Pemimpin Paling Diburu di Dunia?
Sejumlah analis menilai posisi Mojtaba saat ini mungkin merupakan salah satu jabatan paling berbahaya di dunia.
Analis politik dari BBC Persian, Parham Ghobadi, menyebut bahwa pemimpin baru Iran otomatis menjadi target utama dalam konflik geopolitik yang sedang memanas.
Meski demikian, para pejabat Iran yakin kepemimpinan Mojtaba akan membuat negara itu semakin kuat dan siap menghadapi tekanan dari musuh-musuhnya.
Kini dunia menunggu langkah berikutnya dari pemimpin baru yang sebelumnya jarang tampil di publik, namun tiba-tiba berada di pusat pusaran krisis paling berbahaya di Timur Tengah.***











