Misi Nekat Relawan Pertamina Tembus Lumpur Demi Warga Terlupakan Aceh Tamiang

banner 468x60

ACEH TAMIANG, Radarjakarta.id — Di saat bantuan sulit menjangkau pelosok Aceh pascabanjir bandang, sekelompok relawan Pertamina Peduli memilih menantang risiko. Mereka berjalan kaki berjam-jam menembus lumpur dan jalur terputus demi satu tujuan: memastikan warga Kampung Sunting tidak dibiarkan berjuang sendirian.

Banjir bandang yang menghantam Aceh Tamiang pada 26 November 2025 meninggalkan luka mendalam. Kampung Sunting, yang berjarak hanya 23 kilometer dari pusat kota, justru menjadi salah satu wilayah paling terisolasi. Akses jalan rusak parah memaksa perjalanan ditempuh hingga tiga jam berkendara, dilanjutkan dua jam berjalan kaki di jalur berlumpur yang menguji fisik dan mental.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Perhatian publik terhadap Kampung Sunting bermula dari sebuah video viral. Dalam rekaman itu, tampak Zulkarnain (37), seorang pemuda penyandang disabilitas, mengais puing-puing rumahnya yang rata dengan tanah demi mencari sisa barang yang masih bisa diselamatkan. Video itulah yang menggugah Relawan Pertamina Peduli untuk menjalankan misi khusus bertajuk “Mencari Kampung Sunting”.

Empat relawan pekerja Pertamina bersama tiga tenaga medis — dokter dan perawat — memutuskan menembus wilayah tersebut meski dengan keterbatasan logistik. Setibanya di lokasi, mereka mendapati fakta memilukan: warga belum tersentuh layanan medis, obat-obatan nyaris tidak ada, bahkan sebagian masih mengenakan pakaian yang sama sejak hari bencana.

“Kami tetap datang karena di sini benar-benar belum ada bantuan medis. Banyak warga butuh penanganan serius, termasuk ibu hamil tujuh bulan dan para lansia,” ungkap dr. Haryati Victoria dari RS Pertamina Prabumulih, yang tergabung dalam tim medis.

Salah satu pasien yang langsung ditangani adalah Ishak (76). Lansia tersebut mengalami sesak napas dan kelelahan ekstrem meski hanya berjalan beberapa langkah. Pemeriksaan awal mengindikasikan pembengkakan jantung dan kemungkinan cairan di paru-paru. Dengan segala keterbatasan, tim medis mengevakuasi Ishak menggunakan sepeda motor menuju ambulans untuk dirujuk ke RSUD Langsa.

Selain layanan kesehatan, Relawan Pertamina Peduli membawa obat-obatan, bahan pokok, serta makanan siap saji. Jumlah bantuan memang terbatas, mengingat seluruh logistik harus dipanggul dan dibawa berjalan kaki melewati medan ekstrem.

Tak hanya fokus pada fisik, relawan juga menyentuh sisi psikologis korban. Anak-anak diajak bermain, mengikuti kuis ringan, dan menerima trauma healing sederhana agar perlahan bangkit dari ketakutan pascabencana. Mereka juga mendapat tambahan asupan susu untuk membantu pemulihan kondisi tubuh.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan komitmen perusahaan untuk terus hadir di titik-titik paling sulit dijangkau. “Pertamina Peduli berupaya hadir langsung di tengah masyarakat yang paling membutuhkan, termasuk daerah yang belum tersentuh bantuan. Kami percaya kehadiran relawan, tenaga medis, dan bantuan kemanusiaan dapat meringankan beban warga dan mempercepat pemulihan pascabencana,” ujarnya.

Menurut Baron, misi kemanusiaan ini akan terus dilanjutkan, seiring peran Pertamina tidak hanya sebagai penyedia energi nasional, tetapi juga sebagai entitas yang bertanggung jawab secara sosial. Komitmen tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina menuju perusahaan berkelanjutan yang mendukung target Net Zero Emission 2060 serta pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Di tengah lumpur, jalan terputus, dan keterbatasan, Kampung Sunting akhirnya tak lagi sendirian. Dari satu video viral, lahirlah aksi nyata yang membuktikan bahwa kemanusiaan masih menemukan jalannya — meski harus ditempuh dengan langkah tertatih di medan paling berat.|Doel*

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.