JAKARTA, Radarjakarta.id – Sebuah video yang menyebar luas di media sosial memicu kemarahan global setelah memperlihatkan aksi kontroversial Kepala Menteri Bihar, Nitish Kumar, yang secara tiba-tiba menarik paksa cadar seorang dokter perempuan di acara resmi pemerintah. Insiden itu terjadi di hadapan pejabat tinggi dan tamu undangan, tanpa persetujuan sang perempuan.
Rekaman tersebut menunjukkan Kumar, sambil memegang dokumen pengangkatan, menunjuk cadar sang dokter dan memintanya dibuka. Namun sebelum perempuan itu sempat bereaksi, tangan Kumar sudah lebih dulu menarik paksa penutup wajahnya hingga terbuka di ruang publik.
Situasi makin memicu kecaman setelah seorang menteri yang berdiri di samping Kumar gagal menghentikan tindakan tersebut. Alih-alih menegur, sejumlah pejabat justru terlihat tertawa usai cadar sang dokter tersingkap, menambah kesan pelecehan simbolik terhadap martabat perempuan.
Peristiwa itu terjadi dalam seremoni pemerintahan di Patna, ibu kota Bihar. Nitish Kumar sendiri bukan figur sembarangan. Ia telah hampir dua dekade memimpin Bihar dan dikenal sebagai sekutu politik Partai Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi.
Video tersebut pertama kali diunggah oleh Rashtriya Janata Dal (RJD), partai oposisi utama. RJD mempertanyakan kondisi mental Kumar sekaligus menudingnya telah sepenuhnya tunduk pada ideologi “Sanghi”, istilah yang merujuk pada jaringan organisasi Hindu nasionalis RSS yang kerap dikaitkan dengan meningkatnya sentimen anti-Muslim di India.
Kecaman pun meluas. Partai oposisi, organisasi Muslim, aktivis perempuan, hingga tokoh internasional menuntut Kumar mundur dan diproses hukum. Aksi demonstrasi pecah di Mumbai, sementara Menteri Luar Negeri Pakistan menyebut insiden itu memalukan dan mencerminkan memburuknya perlindungan hak minoritas.
Hingga kini, Nitish Kumar belum menyampaikan permintaan maaf atau klarifikasi langsung. Partainya, Janata Dal-United, justru menyatakan bahwa pemerintahan Kumar selama ini melindungi minoritas pernyataan yang justru memperuncing perdebatan publik soal kekuasaan, agama, dan martabat perempuan di India.











