Menkop Larang Alfamart & Indomaret Tambah Gerai di Desa, Koperasi Merah Putih Disiapkan Jadi Ritel Desa

banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Langkah mengejutkan datang dari pemerintah. Ekspansi ritel modern di pedesaan resmi “direm”. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, secara terbuka meminta jaringan raksasa seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) pengelola Alfamart dan Indomaret untuk tidak lagi membuka gerai baru di desa.

Pernyataan tegas itu disampaikan Ferry dalam wawancara di kanal YouTube IDN Times. Pesannya jelas: desa harus menjadi “rumah sendiri” bagi koperasi, bukan ladang ekspansi ritel modern.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Stop bikin retail modern di desa. Biarkan koperasi desa yang jual barang-barangnya.”

Peta Ritel Dirombak, Desa Tak Lagi Jadi Target Empuk

Kementerian Koperasi tengah menyusun ulang peta perdagangan ritel nasional. Fokusnya: memperkuat Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) sebagai pusat distribusi kebutuhan pokok di tingkat lokal.

Pemerintah menilai ada perbedaan fundamental antara ritel modern dan koperasi desa. Jika gerai modern beroperasi di desa, laba usaha dinilai lebih banyak mengalir ke pemegang saham di kota besar. Sebaliknya, koperasi membuat perputaran uang tetap tinggal di desa menggerakkan ekonomi lokal dan kembali ke masyarakat.

Namun, pemerintah tidak sepenuhnya menutup pintu bagi ritel besar. Produk yang belum mampu diproduksi koperasi tetap bisa dipasok oleh jaringan modern. Artinya, ini bukan “perang total”, melainkan reposisi peran.

UMKM Desa Didorong Produksi Sabun hingga Sambal

Dalam skema baru ini, UMKM desa didorong memproduksi kebutuhan rumah tangga seperti sabun, sampo, deterjen, kecap, saus, hingga sambal. Pemerintah menjanjikan dukungan dari sisi kurasi produk, pembiayaan, hingga penguatan manajemen terutama bagi koperasi yang dikelola generasi muda.

Targetnya ambisius: koperasi tak lagi sekadar lembaga simpan pinjam, melainkan pusat ekonomi produktif desa.

60 Ribu Koperasi Dibangun, Tiga Bulan Harus Berdiri

Pemerintah mempercepat pembangunan Koperasi Desa Merah Putih dalam skala besar. Lebih dari 60.000 unit akan dibangun dengan desain tunggal untuk mempercepat konstruksi. Sekitar 20.000 unit lainnya akan menyesuaikan kondisi geografis dan karakter desa.

Dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Ferry menjelaskan standar lahan minimal 1.000 meter persegi di titik strategis desa. Tahun ini, pembangunan dimulai dari 25.000 unit dan ditargetkan melonjak menjadi 60.000 unit pada tahap berikutnya.

Desa yang tidak sesuai dengan desain standar telah dipetakan oleh PT Agrinas Pangan Nusantara.

Pemerintah menargetkan setiap unit koperasi bisa rampung dalam waktu tiga bulan agar mulai beroperasi pada Maret–April 2026.

Bursa Bereaksi: Saham AMRT & DNET Terseret

Pernyataan pembatasan ekspansi desa langsung beriringan dengan pelemahan saham emiten terkait.

Saham AMRT turun 4,21% ke level 1.820 dan telah melemah 7,85% sejak awal tahun.

Saham DNET terkoreksi 1,66% ke posisi 8.875, turun 2,20% secara year to date, dan minus 4,6% dalam enam bulan terakhir.

Pasar kini mencermati: sejauh mana kebijakan ini benar-benar akan membatasi ekspansi ritel modern dan memengaruhi kinerja keuangan mereka.

Ritel Modern Masih Raksasa

Hingga Januari 2026, Alfamart tercatat mengoperasikan lebih dari 21.120 gerai melalui 34 kantor cabang di seluruh Indonesia. Indomaret bahkan memiliki lebih dari 23.100 gerai per awal 2025.

Dengan jaringan sebesar itu, kebijakan “rem desa” bisa menjadi titik balik strategi ekspansi atau justru hanya penyesuaian arah.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.