Menhut Relokasi Warga Tesso Nilo, Tegaskan Bukan Penggusuran

banner 468x60

RIAU, Radarjakarta.id – Riau kembali menjadi panggung kebijakan besar negara. Pemerintah resmi memulai relokasi warga dari kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), langkah strategis yang menandai babak baru penataan hutan konservasi sekaligus penyelesaian konflik lama antara manusia dan alam.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan, relokasi ini bukan penggusuran, melainkan rekonsiliasi besar-besaran yang menghadirkan keadilan sosial tanpa mengorbankan lingkungan. Negara memilih jalan dialog, bukan kekerasan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Di Desa Bagan Limau, Kabupaten Pelalawan, Menhut menyampaikan apresiasi terbuka kepada warga yang bersedia direlokasi secara damai. Ia menyebut masyarakat setempat sebagai teladan nasional dalam penyelesaian konflik kawasan hutan.

“Ini kemenangan bersama. Bukan hari permusuhan, tapi hari bahagia karena kepastian hukum akhirnya hadir,”ujar Menhut Raja Antoni di Desa Bagan Limau, Kabupaten Palalawan, Riau, Sabtu (20/12).

Sebanyak 228 kepala keluarga dipindahkan dari jantung kawasan TNTN ke wilayah perhutanan sosial seluas 635,83 hektare, bagian dari target penataan kawasan mencapai 2.569 hektare. Pemerintah menyiapkan lahan pengganti yang sah dan produktif agar warga tetap bisa melanjutkan kehidupan ekonomi secara legal.

Lahan relokasi mencakup eks PT PSJ di Desa Gondai seluas 234,51 hektare serta kawasan eks PTPN di Indragiri Hulu dan Kuantan Singingi dengan total 647,61 hektare. Warga menerima SK Hutan Kemasyarakatan (HKm) sebagai langkah cepat sebelum ditingkatkan menjadi Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) oleh Kementerian ATR/BPN.

“Negara memastikan bapak ibu tidak kehilangan masa depan. Sertifikat tanah akan menyusul. Ini kepastian hukum, bukan janji kosong,” ujar Menhut, disambut tepuk tangan warga.

Relokasi ini juga menjadi titik balik pemulihan ekosistem Tesso Nilo yang selama ini tertekan. Dalam momen simbolis, Menteri Kehutanan menumbangkan pohon sawit ilegal dan menanam bibit pohon Kulim, menandai dimulainya restorasi kawasan konservasi secara nyata.

“Pemusnahan sawit bukan bentuk permusuhan, tapi pengembalian fungsi Taman Nasional sebagai rumah satwa liar, termasuk gajah Domang dan habitatnya,” kata Menhut.

Sebagai bukti keseriusan, pemerintah menggelontorkan 74 ribu bibit pohon untuk penghijauan TNTN, terdiri dari mahoni, trembesi, sengon, jengkol, dan kaliandra. Targetnya jelas: hutan pulih, konflik berakhir, rakyat sejahtera.

Langkah ini mendapat pengawalan ketat lintas institusi. Hadir langsung Plt Gubernur Riau, Kapolda Riau, Pangdam, Kajati Riau, hingga Wakil Menteri ATR/BPN, menegaskan bahwa penataan Tesso Nilo adalah agenda nasional, bukan proyek setengah hati.

Tesso Nilo kini memasuki fase baru: hutan dikembalikan, hak rakyat dipastikan, dan negara benar-benar hadir.|Santi Sinaga*

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.