Menhan Sjafrie: Pers Penjuru Nasionalisme di Perang Opini

banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id — Menteri Pertahanan Republik Indonesia Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan bahwa Indonesia saat ini tidak hanya menghadapi tantangan keamanan konvensional, tetapi juga berada dalam perang opini dan perang psikologis yang berpotensi melemahkan persatuan nasional.

Hal tersebut disampaikan Menhan Sjafrie saat memberikan arahan kepada insan pers yang mengikuti program Bela Negara di hari ke-3 di Pusat Kompetensi Bela Negara, Desa Cibodas, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/1/2026) pagi, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan nasional di tengah dinamika global dan domestik.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin tiba di Pusat Kompetensi Bela Negara menggunakan helikopter TNI Angkatan Udara. 

Dalam arahannya Sjafrie mengatakan bahwa dalam perang opini, niat baik dan kerja keras aparatur negara maupun masyarakat sering kali dipelintir dan dipersepsikan secara negatif. Karena itu, peran pers menjadi sangat strategis untuk memastikan opini publik tetap berpijak pada kebenaran.

“Kita sekarang berada dalam perang opini. Banyak pihak yang bekerja dengan niat baik justru dipandang negatif. Di sinilah peran pers menjadi penjuru nasionalisme, memberikan jaminan opini bahwa negara ini dijalankan dengan benar,” tegas Sjafrie.

Ia menekankan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya dan strategis, sehingga harus dijaga bersama melalui kolaborasi seluruh elemen bangsa, termasuk insan pers lintas generasi.

Menhan juga mengingatkan pentingnya menghormati tugas aparat negara dan birokrasi yang diberi amanah mengelola sektor-sektor vital, khususnya ekonomi. Namun demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mentoleransi praktik ilegal.

“Kita akan mengidentifikasi siapa pun yang melakukan kegiatan ilegal. Kita beri kesempatan melalui verifikasi, penjelasan, dan penertiban administratif. Tetapi jika tidak dipatuhi, penegakan hukum akan dilakukan secara tegas,” ujarnya.

Sjafrie menegaskan bahwa sebagai Menteri Pertahanan dan pembantu Presiden, dirinya bekerja berdasarkan regulasi dan mandat konstitusional, tanpa kepentingan lain di luar tugas negara.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti pentingnya persatuan dan kesatuan nasional. Perbedaan usia, latar belakang, dan generasi di tubuh pers tidak boleh menjadi sekat, melainkan kekuatan kolektif.

“Kita ini satu kapal. Ada yang senior, ada generasi muda. Tetapi sejarah Indonesia mengajarkan bahwa perhatian terhadap bangsa dan negara adalah fondasi utama,” katanya.

Lebih lanjut, Menhan Sjafrie mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan generasi muda yang militan, intelektual, dan kapabel untuk diberi tanggung jawab strategis dalam menjaga kedaulatan, khususnya kedaulatan ekonomi nasional.

Di tingkat global, Sjafrie menegaskan komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia, sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945. Salah satu wujudnya adalah dukungan aktif Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina.

Indonesia, kata dia, akan terus berperan dalam forum internasional dan operasi perdamaian dunia, termasuk pengiriman pasukan perdamaian bersama negara-negara lain, sesuai ketentuan internasional.

“Kita hadir sebagai bagian dari komunitas internasional untuk menstabilkan situasi dan mendorong tercapainya perdamaian di Palestina,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Menhan menyebut bahwa operasi-operasi pertahanan dan keamanan nasional terus ditingkatkan, dengan pola operasi yang semakin terukur dan efektif.

“Hasil operasi menunjukkan peningkatan signifikan. Di bawah komando yang ada, pelaksanaan tugas berjalan dengan baik dan akan terus kita tingkatkan,” pungkasnya.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.