Radarjakarta.id | JAKARTA – Dokter ahli forensik, dr Djaja Surya Atmaja memberikan kesaksian yang mengejutkan terkait kasus kematian Wayan Mirna Salihin. Ia yakin, yang menyebabkan kematian Mirna bukanlah racun sianida.
Dr Djaja merupakan dokter yang bertugas mengawetkan jenazah dalam kasus kematian Mirna Salihin tujuh tahun silam. Dosen senior Universitas Indonesia tersebut mengungkapkan fakta terkait kematian Mirna dalam podcast Dr. Richard Lee yang tayang pada Sabtu, 7 Oktober 2023.
Dalam podcast tersebut, dr Djaja menyatakan pendapat bahwa Mirna bukan karena meminum kopi sianida yang disebut-sebut disodorkan oleh Jessica Wongso. Berikut alasannya.
Dokter Djaja menerima jenazah Mirna Salihin dua jam setelah kematian perempuan berusia 27 tahun tersebut.
Kala itu ia ditugaskan untuk mengawetkan jenazah tersebut. Karena akan disemayamkan di Rumah Duka Dharmais, Jakarta. Djaja menyarankan agar Mirna diotopsi. Namun keluarga menolak.
Sebelum mengawetkan jenazah Mirna Salihin, Djaja melakukan pemeriksa luar terhadap tubuh korban. Karena ia mendengar bahwa penyebab kematian adalah racun sianida.
Namun, ketika diperiksa, wajah dan tubuh Mirna Salihin berwarna kebiruan. Padahal, kalau benar meninggal karena sianida, seharusnya berwarna merah cerah.
Selain itu, ketika Djaja menekan lambung Mirna sembari mencium hawa yang keluar dari mulut dia, tidak dideteksi bau sianida sedikit pun. Pada penelitian sampel pertama, yakni pada muntahan Mirna, juga tidak ditemukan senyawa sianida
Kadar Sianida yang Ditemukan dalam Tubuh
Malam sebelum jenazah Mirna dimakamkan, kelurga mengizinkan otopsi. Namun, sesampai di Rumah Sakit Polri, pihak keluarga hanya membolehkan pengambilan sampel saja.
“Diambil isi lambungnya, ambil jaringan hatinya, darah, dan urine. Udah (tubuh korban) ditutup lagi,” ungkap dokter Djaja di podcast Richard Lee.
Dari sampel kedua yang diambil di RS Polri, tidak ditemukan sianida dalam hati, darah, dan urine Mirna. Sianida hanya ditemukan di lambung, dengan kadar 0,2 mg. Hal itu bertentangan dengan hasil penelitian sampel pertama.
“Logikanya kalau ada sianida dalam kadar besar, terus kemudian jadi kecil, itu mungkin masuk di akal. Tapi kalau tidak ada kemudian jadi ada, itu kan tanda tanya. Dari mana?,” cetus pria lulusan Kobe University, Jepang, tersebut.
Kadar sianida dalam tubuh Mirna juga disebut sangat kecil untuk bisa mengakibatkan kematian pada manusia. Kadar yang bisa mengakibatkan kematian biasanya antara 150-250 mg.
“Jadi jika 150 ml masuk ke lambung, dan lambung kita penuh air, maka 150 ml/liter, itu 2 jam setelahnya harusnya masih ada di urine, di darah, di hati,” jelas dokter Djaja.
Djaja menjelaskan, sianida mampu menyebabkan kematian apabila masuk ke aliran darah, bukan ke lambung. Seperti yang kita ketahui, dari lambung sari makanan akan menuju ke hati untuk didetoksifikasi. Alias penetralan racun. Jadi sianida dinetralkan dengan tiosianat alami dalam tubuh manusia.
“Maka salah satu tanda bahwa dia sudah kemasukan sianida adalah ada tiosianat di dalam hati, darah, dan urine. Bahkan kalau Nah itu (di jasad Mirna Salihin, Red) tidak ada,” jelas dokter Djaja.
Ditemukan Tukak Lambung
Penemuan dokter ahli forensik yang memeriksa mayat Mirna Salihin ternyata tidak cocok dengan gejala orang yang keracunan sianida.
Ia menemukan darah hitam dalam lambung, serta terdapat tukak lambung atau luka pada lambung Mirna. Penemuan luka tersebut diambil dan diperiksa, dan ternyata hasilnya adalah sel radang bulat.
“Jadi kalau ada luka baru, misalnya karena bahan kimia, maka yang ada itu sel PMN (Polymorphonuclear). Tapi kalau udah lama, prosesnya udah kronis, maka sel radanganya bulat-bulat semua, yaitu limfosit dan monosit,” jelas dokter Djaja.










