Oleh: Forum Sipil Nusantara Bersatu
I. Pendahuluan
Pasca Pemilu Presiden 2024, Indonesia tidak hanya memasuki fase transisi kekuasaan, tetapi juga fase pengujian terhadap kualitas dukungan publik terhadap pemerintahan baru. Dalam situasi ini, dukungan tidak lagi cukup dalam bentuk pernyataan politik, melainkan dituntut hadir dalam bentuk kontribusi nyata yang menyentuh masyarakat.
Dalam konteks tersebut, muncul sosok Ir. R. Haidar Alwi, MT, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, serta Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, yang menunjukkan pola dukungan berbeda: menggabungkan gerakan sosial dengan dukungan kebangsaan.
Sejak momentum 14 Februari 2024, ketika hasil sementara Pemilu mulai mengarah pada kemenangan pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, Haidar Alwi tidak menunggu legitimasi formal, melainkan langsung bergerak melalui santunan anak yatim dan dhuafa.
Di sinilah letak perbedaannya: dukungan tidak berhenti pada politik, tetapi langsung diterjemahkan menjadi aksi sosial. Ini yang menjadi dasar penting mengapa kiprah Haidar Alwi layak dikaji sebagai model integrasi antara gerakan kemanusiaan dan dukungan kebangsaan.
II. Momentum Awal: Politik yang Diterjemahkan Menjadi Aksi Sosial
Salah satu momen penting yang memperlihatkan karakter gerakan Haidar Alwi adalah kegiatan syukuran kemenangan Prabowo-Gibran yang dirancang bukan sebagai perayaan elit, tetapi sebagai kegiatan sosial.
Rapat persiapan kegiatan digelar pada 15 Maret 2024 di Menteng, dengan rencana pelaksanaan acara puncak pada 20 Maret 2024 di Tennis Indoor Senayan. Kegiatan ini melibatkan puluhan ribu relawan dan pelaku UMKM, serta dirangkai dengan santunan kepada masyarakat.
Sumber: https://www.inilah.com/belum-resmi-jadi-pemenang-relawan-prabowo-gibran-rencanakan-syukuran-di-senayan
Secara analitis, langkah ini menunjukkan perubahan paradigma dalam praktik politik. Kemenangan tidak dirayakan secara simbolik, tetapi dijadikan momentum distribusi manfaat sosial. Ini menandai pendekatan yang lebih substantif, di mana politik tidak berhenti di ruang kekuasaan, tetapi turun langsung ke ruang masyarakat.
III. Gerakan Rakyat Bantu Rakyat: Dari Aksi Sosial ke Gerakan Nasional
Gerakan Rakyat Bantu Rakyat menjadi pilar utama dalam aktivitas Haidar Alwi Care. Program ini tidak berhenti pada santunan sporadis, tetapi berkembang menjadi gerakan nasional dengan target dua juta anak yatim dan dhuafa.
Bantuan yang diberikan meliputi santunan langsung, distribusi beras, serta berbagai kegiatan sosial yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Sumber: https://www.kabariku.com/2025/07/haidar-alwi-berbagi-1000-ton-beras-2-juta-santunan-dan-doa-untuk-pemimpin-negeri/
Yang menarik, gerakan ini tidak hanya berbasis distribusi bantuan, tetapi juga membangun narasi kebangsaan. Dalam setiap kegiatan, terdapat doa untuk pemimpin negeri sebagai bagian dari dukungan moral.
Haidar Alwi Pencetus Gerakan Nasional Rakyat Bantu Rakyat menempatkan konsep ini sebagai bentuk gotong royong modern. Dalam analisis sosial, ini bisa dilihat sebagai upaya membangun legitimasi sosial dari bawah, bukan hanya mengandalkan legitimasi formal negara.
IV. Dukungan Kebangsaan: Loyalitas yang Bersifat Operasional
Dukungan terhadap pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dalam konteks ini tidak bersifat simbolik.
Dalam setiap kegiatan Haidar Alwi Care, terdapat konsistensi narasi yang mendoakan:
Presiden Prabowo Subianto,
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka,
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo,
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad.
Ini menunjukkan bahwa dukungan yang dibangun bersifat operasional: membantu rakyat sebagai bentuk memperkuat pemerintahan.
Secara analitis, ini adalah model “dukungan berbasis kontribusi”, bukan “dukungan berbasis retorika”. Dalam konteks politik modern, pendekatan ini relatif jarang dan memiliki dampak jangka panjang terhadap stabilitas sosial.
V. MBG dan Ketahanan Pangan: Dukungan yang Kritis dan Rasional
Dalam isu kebijakan, Haidar Alwi tidak hanya mendukung, tetapi juga memberikan masukan.
Ia menyarankan agar program Makan Bergizi Gratis tidak sepenuhnya dibebankan pada APBN, melainkan melibatkan BUMN dan sektor swasta.
Sumber:
https://m.antaranews.com/berita/4099845/haidar-alwi-saran-program-makan-siang-gratis-tidak-penuh-dibiayai-apbn
Di sisi lain, ia juga menegaskan bahwa mayoritas masyarakat puas terhadap program tersebut.
Sumber:
https://sultra.antaranews.com/berita/496973/haidar-alwi-katakan-mayoritas-rakyat-puas-dengan-mbg
Dari sini terlihat pola yang menarik: dukungan yang tidak membabi buta, tetapi tetap kritis. Ini menunjukkan bahwa Haidar Alwi memposisikan diri sebagai bagian dari ekosistem kebijakan, bukan sekadar pendukung pasif.
Dalam konteks ketahanan pangan, ia juga menekankan pentingnya peran institusi negara dalam menjaga stabilitas distribusi. Ini memperlihatkan bahwa isu pangan dipahami sebagai isu strategis nasional, bukan sekadar teknis.
VI. Tambang Rakyat dan Koperasi: Gagasan Ekonomi Berbasis Keadilan
Dalam bidang ekonomi, Haidar Alwi mendorong legalisasi tambang rakyat dan pembentukan koperasi sebagai solusi untuk mengatasi tambang ilegal.
Sumber:
– https://www.otonominews.id/2025/07/14/haidar-alwi-dukung-tambang-rakyat-ntb-harus-dicontoh-secara-nasional/
– https://ipol.id/2025/02/haidar-alwi-regulasi-yang-adil-kunci-keberlanjutan-tambang-rakyat/
Gagasan ini memiliki dimensi strategis. Tambang rakyat tidak lagi diposisikan sebagai masalah, tetapi sebagai solusi ekonomi berbasis masyarakat.
Secara analitis, ini merupakan upaya menggeser paradigma dari ekonomi ekstraktif yang dikuasai elite menjadi ekonomi partisipatif yang melibatkan rakyat secara langsung.
VII. Konsistensi hingga 2026: Dukungan yang Tidak Musiman
Memasuki 2025 hingga 2026, dukungan Haidar Alwi tetap konsisten. Hal ini terlihat dari kegiatan Rakernas Haidar Alwi Institute yang menegaskan dukungan terhadap pemerintahan.
Sumber: https://nasional.sindonews.com/read/1675323/12/gelar-rakernas-haidar-alwi-institute-beri-penghargaan-ke-prabowo-dasco-dan-kapolri-1770638526
Konsistensi ini menjadi pembeda utama. Banyak dukungan politik bersifat musiman, muncul saat momentum dan hilang setelahnya. Namun dalam kasus ini, dukungan justru berkembang menjadi gerakan yang berkelanjutan.
VIII. Kesimpulan
Kiprah R. Haidar Alwi menunjukkan bahwa gerakan sosial dapat menjadi instrumen strategis dalam mendukung pemerintahan sekaligus memperkuat solidaritas masyarakat.
Melalui integrasi antara aksi sosial, dukungan kebangsaan, dan gagasan ekonomi rakyat, Haidar Alwi menghadirkan model baru dalam partisipasi masyarakat.
Gerakan Rakyat Bantu Rakyat bukan hanya program bantuan, tetapi merupakan pendekatan sistemik dalam membangun legitimasi sosial dari akar masyarakat.
Dalam konteks Indonesia yang kompleks, model ini menjadi relevan sebagai contoh bahwa stabilitas nasional tidak hanya dibangun dari atas, tetapi juga dari bawah.











