Membaca Politik Damai Sufmi Dasco Ahmad Lewat Kacamata Bahtra Banong

banner 468x60

Oleh: Bahtra Banong, Wakil Ketua Komisi II DPR RI

Jakarta — Di tengah riuhnya polarisasi politik pasca-Pilpres 2024, muncul sosok yang menawarkan alternatif berbeda dalam menyikapi perbedaan pendapat: Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR RI dan Ketua Harian Partai Gerindra. Di era yang sarat dengan perpecahan dan ketegangan politik ini, Dasco menunjukkan bahwa politik bisa berjalan dengan pendekatan yang lebih damai, inklusif, dan konstruktif. Dalam catatan ini, saya, Bahtra Banong, akan mengulas bagaimana langkah-langkah politik Damai Sufmi Dasco Ahmad berperan penting dalam meredakan ketegangan dan membangun kembali komunikasi politik yang efektif.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Memasuki hari ke-183 pemerintahan Prabowo-Gibran sejak dilantik pada 20 Oktober 2024, tensi politik nasional masih terasa tegang. Kendati didukung oleh koalisi besar KIM Plus, bayang-bayang polarisasi pasca Pilpres belum juga surut. Media sosial terus dipenuhi narasi konfrontatif, cuitan tajam, dan meme sindiran, memperkuat jurang perbedaan antara pendukung pemerintah dan oposisi.

Namun, di tengah kegaduhan politik itu, hadir sosok yang menempuh jalan berbeda. Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR RI sekaligus Ketua Harian Partai Gerindra, menunjukkan bahwa politik tidak harus bising dan memecah. Ia memilih merajut kembali tenun kebangsaan lewat diplomasi lunak: silaturahmi dan dialog yang tulus.

Politik Tanpa Sekat, Diplomasi yang Mengurai Ketegangan

Polarisasi yang terjadi tidak hanya memisahkan elit politik, tetapi juga memutus komunikasi antara pemerintah dan masyarakat sipil. Dalam ruang yang semakin sempit untuk dialog, Dasco hadir sebagai jembatan. Lewat pendekatan budaya dan komunikasi inklusif, ia membuka saluran-saluran yang sebelumnya macet.

Contoh nyata adalah pertemuan antara Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri. Hubungan keduanya sempat membeku pasca-Pilpres dan sengketa hukum. Namun, Dasco secara sabar mulai menjalin komunikasi sejak Oktober 2024. Puncaknya, momen “halalbihalal” menjadi ruang pertemuan yang penuh makna tidak sekadar simbolik, melainkan membuka peluang kerja sama yang lebih luas.

Menjembatani Ideologi yang Berbeda

Silaturahmi Dasco juga menyentuh ranah ideologis. Kepada PKS, misalnya, ia tidak menggiring pembicaraan ke isu sensitif seperti syariah atau ekonomi, tetapi memilih diskusi ringan seputar tantangan kebangsaan. Pendekatan serupa diterapkannya saat bertemu serikat buruh dalam diskusi mengenai Satgas Pemutusan Hubungan Kerja pada 17 April 2025. Komunikasi yang dibangun bersifat mendengar, bukan mendikte.

Lebih jauh lagi, ia menyentuh ruang yang jarang disentuh politisi: intelektual kritis. Pada 7 April 2025, Dasco menggelar pertemuan santai di sebuah restoran di Senayan bersama Rocky Gerung, Jumhur Hidayat, dan Syahganda Nainggolan. Dengan menu sederhana seperti sayur lodeh dan tahu-tempe, ia mendengarkan kritik dan keresahan soal demokrasi dan ekonomi. Bahkan Rocky, yang dikenal tajam terhadap pemerintah, menyebut Dasco sebagai “kawan politik” — sebuah pengakuan langka dan bernilai tinggi.

Menawarkan Politik yang Merangkul, Bukan Menggurui

Dasco membuktikan bahwa politik inklusif bukan sekadar jargon. Ia melibatkan oposisi, intelektual, dan pekerja, tanpa tuntutan keselarasan. Gaya komunikasinya santai, terbuka, dan mengakar pada budaya menjadi model baru dalam mengelola perbedaan.

Pendekatan ini bukan hanya relevan bagi politisi senior, tetapi juga menjadi pelajaran penting bagi generasi muda. Di era polarisasi digital dan perdebatan sengit di media sosial, Dasco memperlihatkan bahwa dialog sejati lahir dari pertemuan nyata, bukan dari layar ponsel.

Dari Meja Makan ke Ruang Demokrasi

Sufmi Dasco Ahmad memberi contoh bahwa stabilitas politik tidak tumbuh dari dominasi, tetapi dari pertemuan hati dan pikiran. Dari meja makan sederhana di Senayan hingga ruang diplomasi lintas partai, ia menunjukkan bahwa silaturahmi adalah kekuatan besar dalam merawat demokrasi.

Dengan gaya yang rendah hati namun strategis, Dasco mengajak semua pihak untuk duduk bersama. Sebab mungkin, dalam aroma kopi dan tawa yang jujur, demokrasi Indonesia bisa menemukan jalan pulangnya.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.