TANJUNG PINANG, Radarjakarta.id – Memperingati 80 tahun kemerdekaan Indonesia, Anggota Dewan Pakar Majelis Nasional (MN) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Drs. H. Manimbang Kahariady menegaskan perlunya membangun kepemimpinan transformatif berbasis Lima Insan Cita.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Silaturahmi dan Dialog Interaktif bertajuk “Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan RI: Mewujudkan Kepemimpinan Transformatif Berbasis Lima Insan Cita”, yang diselenggarakan Majelis Wilayah KAHMI Kepulauan Riau di Tanjungpinang, Rabu (20/8) malam.
Manimbang menekankan, Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya piawai di politik praktis, tetapi juga memiliki fondasi keilmuan, kreativitas, integritas, nilai keislaman, dan kesadaran sejarah.
> “Lima Insan Cita adalah warisan HMI yang harus menjadi pedoman KAHMI dalam mencetak pemimpin bangsa ke depan,” ujarnya.
Lima Pilar Kepemimpinan Transformatif
1. Insan Akademis: Pendidikan dan SDM Unggul
Manimbang menyebut, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia 2024 naik menjadi 75,02, menegaskan pentingnya kualitas pendidikan. Contoh tokoh HMI seperti Prof. Nurcholish Madjid dan Prof. Dawam Rahardjo menunjukkan pentingnya intelektualitas sebagai dasar kepemimpinan.
2. Insan Pencipta: Inovasi dan Kekuatan Riset
Indonesia berada di peringkat ke-54 dari 133 negara dalam Global Innovation Index 2024. Manimbang menekankan perlunya kepemimpinan yang mendorong riset, inovasi, dan perlindungan kekayaan intelektual, mencontoh Jusuf Kalla yang dikenal sebagai pengusaha sekaligus inovator kebijakan.
3. Insan Pengabdi: Integritas dan Pelayanan Publik
Meski Indeks Persepsi Korupsi (CPI) Indonesia membaik menjadi 37, masih ada pekerjaan rumah di peringkat ke-99 global. Menurut Manimbang, pemimpin yang mengabdi harus menjunjung integritas, bukan sekadar mengejar jabatan, seperti ditunjukkan oleh tokoh Akbar Tanjung dan Mahfud MD.
4. Insan Bernafaskan Islam: Etika dan Keadilan Sosial
Dengan 87 persen penduduk Indonesia beragama Islam, kepemimpinan perlu menanamkan nilai kejujuran, keadilan, dan rahmatan lil alamin, termasuk di era ekonomi digital. “Teknologi harus tumbuh dengan etika, bukan sekadar mengejar profit,” jelas Manimbang.
5. Insan Bertanggung Jawab: Visi Jangka Panjang
Bonus demografi dan ekonomi digital yang diproyeksikan menembus US$130 miliar pada 2025 membutuhkan kepemimpinan berorientasi masa depan. Pemimpin bertanggung jawab memastikan pertumbuhan ekonomi sekaligus inklusi sosial, khususnya melalui digitalisasi UMKM.
Manimbang menegaskan pentingnya peran KAHMI dalam membina kader dan alumni untuk menghadirkan pemimpin bangsa yang siap menghadapi tantangan global.
> “Delapan puluh tahun kemerdekaan bukan sekadar momentum refleksi, tetapi panggilan untuk melahirkan kepemimpinan transformatif yang berakar pada nilai dan ilmu,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Majelis Wilayah KAHMI Kepri, Dr. Suryadi, menyambut positif kegiatan silaturahmi ini sebagai wadah merumuskan gagasan strategis bagi kemajuan bangsa.
> “Silaturahmi ini bukan sekadar pertemuan, tetapi ruang untuk membangun forum pemikiran agar alumni HMI dapat berperan nyata dalam kemajuan bangsa,” ujarnya.***
Manimbang Kahariady: KAHMI Jadi Mesin Pemimpin Bangsa










