Ratusan Rumah Terendam, Motor Hanyut, Jalan Surabaya–Malang Ditutup
MALANG, Radarjakarta.id — Hujan deras yang mengguyur Kota Malang selama kurang dari satu jam pada Kamis siang (4/12/2025), berubah menjadi bencana besar. Sejumlah kawasan protokol tergenang air dengan ketinggian mencapai 160 sentimeter, membuat akses transportasi lumpuh total, terutama jalur Surabaya–Malang.
Genangan air di Jalan Letjen Sutoyo dan Letjen S. Parman mencapai 60 sentimeter, menyebabkan kemacetan hingga lima kilometer. Sejumlah kendaraan roda dua dilaporkan mogok bahkan terbawa arus banjir. “Begitu turun dari flyover Arjosari, air langsung tinggi. Saya mau ke Polresta tapi sudah tidak memungkinkan,” ujar Junaedi, warga Sidoarjo yang terjebak banjir.
Tidak hanya di kawasan jalan protokol, banjir juga masuk ke kawasan permukiman warga. Di wilayah Purwantoro, air menggenangi rumah setinggi 1,5 meter. “Ini banjir terbesar sejak 2021. Sungai meluap dan air masuk ke rumah-rumah warga,” kata Dwi Listiyono, Ketua RT 01 RW 02 Kelurahan Purwantoro.
Sejumlah warga menilai banjir ini bukan sekadar akibat curah hujan tinggi, melainkan dampak buruknya sistem drainase. “Setiap hujan deras, selalu banjir. Ini bertahun-tahun terjadi. Pemerintah harus segera bertindak,” ujar Yanto, warga Letjen S. Parman.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang mengonfirmasi sedikitnya 25 titik terdampak banjir dengan level berbeda. Lokasi terparah terjadi di kawasan Jalan Kedawung dengan ketinggian air mencapai 160 sentimeter. BPBD bersama relawan mengevakuasi warga menggunakan ban karet dan perahu darurat. “Kami imbau warga tetap waspada terhadap potensi banjir susulan,” tegas Kepala BPBD, Prayitno.
Banjir juga menyebabkan kerusakan material. Di beberapa lokasi, toko dan rumah warga mengalami kerusakan berat. Seorang warga, Kasan, mengaku mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah akibat barang dagangannya rusak terendam air. Selain itu, satu rumah dilaporkan ambruk di kawasan Kedawung, menyebabkan pemiliknya mengalami luka.
Hingga berita ini diturunkan, air mulai surut di sebagian wilayah, namun lumpur, sampah, dan kerusakan masih terlihat di hampir seluruh titik terdampak. Pemerintah Kota Malang dijadwalkan menggelar rapat darurat untuk penanganan pascabencana dan evaluasi sistem drainase kota.***











