JAKARTA, Radarjakarta.id — Ikon horor legendaris Indonesia kembali menggeliat, kali ini dengan wajah yang sama sekali berbeda. Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa hadir bukan sekadar sebagai tontonan horor, melainkan ledakan psikologis penuh dendam, luka batin, dan cinta yang terperangkap dalam kegelapan ilmu hitam.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah adaptasi layar lebar, sosok Suzzanna tidak tampil sebagai makhluk gaib yang menghantui malam, melainkan sebagai manusia seutuhnya seorang perempuan bernama Suketi, yang terseret ke jurang santet karena pengkhianatan dan kejahatan yang merenggut keluarganya.
Film produksi Soraya Intercine Films ini seolah membalik pakem lama semesta Suzzanna. Horor tak lagi berdiri sendiri sebagai teror visual, tetapi berkelindan dengan drama emosional yang menusuk nurani.
Dari Cinta ke Pengkhianatan, Dari Luka ke Santet
Kisah bermula dari cinta Suzanna kepada Bisman (Clift Sangra), penguasa desa bertopeng karisma yang ternyata kejam dan rakus kuasa. Ambisi Bisman memuncak pada tindakan tak termaafkan: menyantet ayah Suzanna hingga tewas secara tragis.
Kehilangan itu menjadi titik balik. Duka berubah menjadi amarah. Amarah menjelma tekad. Suzanna pun menempuh jalan terlarang—mempelajari ilmu hitam yang sebelumnya menghancurkan hidupnya, demi satu tujuan: balas dendam.
Namun takdir kembali menguji. Di tengah kegelapan, Suzanna justru jatuh cinta pada Pramuja, sosok religius yang bersih, tulus, dan sama sekali tak mengetahui rahasia kelam yang disimpan perempuan yang dicintainya. Cinta dan santet pun bertabrakan, menciptakan konflik batin yang menjadi jantung cerita film ini.
Luna Maya dan Beban Nama Besar Suzanna
Luna Maya kembali dipercaya menghidupkan karakter ikonik Suzzanna. Meski bukan kali pertama, tantangan kali ini disebut jauh lebih berat. Dalam konferensi pers peluncuran trailer resmi di Epicentrum XXI, Jakarta, Senin (26/1/2026), Luna mengakui tekanan publik menjadi ujian tersendiri.
Ia menegaskan tidak berniat meniru mendiang Suczanna Martha Frederika van Osch secara mentah. Pendekatan yang diambil adalah meneruskan ruh, karisma, dan spirit Suzzanna, namun dengan tafsir baru yang lebih manusiawi dan relevan dengan penonton masa kini.
“Ini bukan tentang menjadi Suzanna yang lama, tapi menjaga marwahnya tetap hidup dalam cerita yang berbeda,” ungkap Luna.
Horor yang Lebih Dalam, Lebih Psikologis
Berbeda dari dua film sebelumnya, Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa sepenuhnya menanggalkan wujud hantu. Pendekatan ini membuka ruang eksplorasi emosi, trauma, dan dilema moral yang jarang disentuh dalam film horor konvensional.
Trailer resmi yang dirilis melalui akun Facebook Moviezy langsung memantik perhatian publik. Nuansa kelam, atmosfer mistis, serta drama emosional berpadu menjadi janji teror yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga menyayat.
Selain Luna Maya dan Clift Sangra, film ini turut dibintangi Reza Rahadian, menambah bobot akting dan daya tarik cerita.
Tayang Lebaran, Siap Mengguncang Bioskop
Dijadwalkan tayang hari pertama Lebaran, 18 Maret 2026, Suzzanna: Santet, Dosa di Atas Dosa digadang-gadang menjadi salah satu film horor paling dinanti tahun ini.
Bukan hanya karena nama besar Suzzanna, tetapi karena keberaniannya mendobrak mitos lama dan menghadirkan horor dengan wajah baru: lebih manusiawi, lebih gelap, dan lebih menyakitkan.
Film ini bukan sekadar kisah teror melainkan potret bagaimana dosa melahirkan dosa lain, dan bagaimana cinta bisa tumbuh bahkan di tengah kegelapan paling pekat.***











