TAPANULI SELATAN, Radarjakarta.id – Lima hari pengabdian Tim Marsiadapari Tandihat 2026 di Tapanuli Selatan resmi berakhir. Di tengah kondisi pascabencana, tim Universitas Indonesia (UI) meninggalkan sejumlah program di bidang kesehatan, pendidikan, serta dukungan sosial bagi warga.
Rangkaian pengabdian berlangsung pada 23–27 September 2026 melalui program UI Peduli di bawah koordinasi Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia (DPIS UI). Kegiatan melibatkan Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK UI), Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB UI), Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI), Universitas Aufa Royhan (UNAR), serta sejumlah mitra lainnya.
Pada hari terakhir, perjalanan tim menuju Desa Tandihat Baru diwarnai hujan deras dan longsor. Jalan yang licin dan berlumpur membuat kendaraan kesulitan melaju. Sekitar 500 meter sebelum lokasi, tim akhirnya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, sementara bantuan sembako dititipkan kepada warga untuk dibawa menggunakan sepeda motor.
Kegiatan terakhir diawali di SDN 100207 Tandihat melalui latihan storytelling dan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi siswa.
Kepala SDN 100207 Tandihat, Desnita Simatupang, mengapresiasi kehadiran mahasiswa UI yang selama beberapa hari mendampingi anak-anak.
“Terima kasih sebesar-besarnya untuk kakak-kakak mahasiswa yang sudah mengabdi di sini. Kehadiran kalian sangat berarti bagi anak-anak kami,” ujarnya.
Ketua Tim Pengmas UI, Assoc. Prof. Dr. Hendra Kaprisma, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pembelajaran penting bagi seluruh anggota tim.
“Marsiadapari bukan sekadar rangkaian kegiatan pengabdian. Kami datang untuk bekerja bersama masyarakat, tetapi pada saat yang sama kami juga belajar dari mereka,” kata Hendra.
Usai kegiatan di sekolah, tim berpamitan sekaligus menyerahkan bantuan alat kesehatan ke Puskesmas Simarpinggan yang diterima Kepala Puskesmas dr. Dian Aspasia Limbong. Bantuan tersebut menjadi bagian dari inventaris puskesmas untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat di kawasan hunian sementara (Huntara).
Tim kemudian melanjutkan perjalanan ke Desa Tandihat Baru dan Desa Tandihat. Selain menyerahkan sembako untuk warga, tim juga berpamitan dengan perangkat desa serta menyerahkan alat kesehatan kepada Posyandu Desa Tandihat.
Peralatan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemantauan kesehatan masyarakat, khususnya ibu, balita, dan lansia yang masih tinggal di kawasan Huntara.
Kepala Desa Tandihat, Saban Yuharja Siregar, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan selama kegiatan.
“Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan yang sudah adik-adik berikan. Kami sungguh-sungguh terbantu atas kegiatan adik-adik di Huntara,” ujarnya.
Sementara itu, Ns. Indah Permata Sari mengatakan pemulihan masyarakat membutuhkan pendekatan yang menyentuh berbagai aspek, mulai dari kesehatan, psikologis, lingkungan, pendidikan hingga dukungan sosial.
“Selama lima hari, kami melihat bahwa kesehatan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari kondisi psikologis, lingkungan, pendidikan, dan dukungan sosial,” katanya.
Koordinator Mahasiswa sekaligus Ketua BEM FIK UI, Aqila Bunga Nurhanin, juga menilai ketangguhan warga menjadi salah satu pengalaman penting selama kegiatan.
“Warga di sini sangat kuat dengan berbagai situasi yang mereka hadapi. Harapannya, mereka bisa tetap kuat dan kembali pulih. Semoga kolaborasi ini tidak berhenti sampai di sini,” ujarnya.
Marsiadapari Tandihat 2026 ditutup dengan perpisahan dan penyerahan sejumlah bantuan. Bagi tim pengabdi, perjalanan lima hari tersebut bukan hanya tentang program yang dijalankan, tetapi juga pengalaman belajar bersama masyarakat dalam menghadapi situasi pascabencana.
Hujan dan medan berat pada hari terakhir bahkan menjadi bagian dari perjalanan pengabdian. Ketika kendaraan tak lagi mampu melaju, langkah kaki justru membawa tim semakin dekat dengan warga.










