JAKARTA, Radarjakarta.id – Dunia modeling kerap dipandang glamor dan menjanjikan. Namun di balik gemerlapnya, tersimpan risiko yang tak sedikit. Model asal Wonogiri, Lili Chan, membagikan pengalamannya agar para model, khususnya pendatang baru, tidak terjebak dalam tawaran yang merugikan.
Di tengah situasi industri yang dinilai semakin tak menentu, Lili mengingatkan bahwa iming-iming popularitas dan bayaran besar bisa menjadi jebakan jika tidak disikapi dengan bijak.
“Godaan jadi model memang menggiurkan. Tapi kalau kita tetap fokus pada tujuan awal dan pegang prinsip, insyaallah bisa terhindar dari perangkap,” ujarnya saat ditemui usai menjadi pembicara di salah satu program televisi nasional yang membahas kasus pelecehan terhadap model yang tengah viral.
Menurutnya, menjaga sikap, disiplin, dan keberanian untuk berkata tidak merupakan kunci utama bertahan di industri tersebut. Ia menegaskan bahwa tidak semua model pernah menjadi korban, namun kewaspadaan tetap diperlukan.
“Kalau ada yang nggak sesuai atau bikin nggak nyaman, ya tolak. Kita harus jaga diri,” tegasnya.
Terjun ke dunia modeling sejak 2014, Lili mengaku awalnya kerap menolak berbagai tawaran pemotretan. Baru pada 2020 ia memutuskan menekuni profesi tersebut secara serius karena alasan pekerjaan.
“Dari 2014 sudah sering ditawari foto, tapi aku belum mau. Baru 2020 aku terjun karena butuh kerjaan,” tuturnya.
Seiring perjalanan kariernya, ia mengaku pernah menerima konsep pemotretan dengan busana terbuka. Namun pengalaman itu justru membentuknya menjadi lebih selektif.
“Awal-awal sempat nurut pakai baju yang agak terbuka. Tapi makin ke sini aku nggak mau. Aku punya prinsip,” katanya.
Pengalaman kurang menyenangkan juga pernah ia alami ketika diminta melakukan pemotretan di hotel. Ia menolak berada hanya berdua dengan fotografer di dalam ruangan dan memilih melibatkan pihak lain sebagai saksi.
“Aku nggak mau kalau cuma berdua di dalam satu ruangan. Maunya rame-rame. Jadi aku ajak pihak hotel untuk tahu kalau itu hanya foto,” ungkapnya.
Tak hanya soal keamanan, Lili juga menyoroti persoalan profesionalitas dalam pembayaran honor. Ia pernah dijanjikan bayaran jutaan rupiah, namun realitasnya jauh dari kesepakatan awal.
“Pernah dijanjikan sekian juta, tapi pas sampai rumah amplopnya cuma Rp350 ribu,” ujarnya.
Meski demikian, Lili tetap menilai dunia modeling memberinya banyak pelajaran dan relasi. Ia menekankan bahwa setiap individu memiliki batasan dan prinsip masing-masing.
“Semua kembali ke diri kita. Kita nggak bisa samaratakan semua orang,” tutupnya.
Melalui pengalamannya, Lili berharap para model, terutama generasi muda, lebih waspada dan berani bersikap tegas demi menjaga martabat serta profesionalitas di industri modeling.










