Libur Nataru 2025: Ubah Malioboro Jogja Jadi Lautan Manusia

banner 468x60

JOGJA, Radarjakarta.id – Libur panjang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 benar-benar mengubah wajah Jalan Malioboro. Kawasan ikonik jantung Kota Yogyakarta itu kembali “meledak” oleh gelombang wisatawan dari berbagai penjuru Indonesia, menjadikannya salah satu titik terpadat selama libur akhir tahun.

Sejak memasuki pekan Natal, denyut Malioboro nyaris tak pernah padam. Dari pagi hingga larut malam, trotoar pedestrian, Teras Malioboro, sentra oleh-oleh, hingga kawasan kuliner dipenuhi lautan manusia yang ingin merasakan atmosfer liburan khas Kota Gudeg.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Bukan hanya wisatawan lokal Jawa, pelancong dari luar pulau pun ikut memadati kawasan ini. Mereka berburu makanan legendaris, menyusuri jalan bersejarah sambil berjalan santai, hingga memborong buah tangan untuk keluarga di kampung halaman.

Ledakan wisatawan ini sejalan dengan prediksi Pemerintah Kota Yogyakarta. Selama periode libur akhir tahun, jumlah kunjungan diperkirakan menembus angka fantastis: tujuh juta wisatawan membanjiri Kota Yogyakarta.

Lonjakan ini membuat pemerintah setempat mengeluarkan imbauan tegas. Wisatawan diminta disiplin berlalu lintas, waspada terhadap barang pribadi, serta memastikan anggota rombongan tidak terpisah demi menjaga keamanan dan kenyamanan bersama.

Pesona Malioboro memang seolah tak pernah kehilangan daya magisnya. Banyak wisatawan mengaku sengaja kembali datang meski hanya untuk menikmati suasana malam Jogja yang khas.

Surana, salah satu pelancong, mengungkapkan bahwa singgah ke Yogyakarta sudah menjadi agenda wajib, meski tujuan utamanya mengunjungi kerabat.

“Dari Purbalingga, ke Klaten dulu, baru ke Jogja. Capek, tapi rasanya selalu terbayar,” ujarnya.

Sementara itu, kepadatan juga terasa di jalur menuju Malioboro. Menjelang sore, antrean kendaraan didominasi mobil pribadi berpelat luar DIY mengular hingga Jalan Abu Bakar Ali. Meski padat, arus kendaraan masih bergerak dan tidak sampai stagnan.

Direktur Lalu Lintas Polda DIY, Kombes Pol Yuswanto Ardi, menjelaskan pihaknya menerapkan rekayasa lalu lintas situasional. Salah satunya dengan menonaktifkan sementara lampu lalu lintas di simpang Gardu Aniem untuk mencegah kemacetan total.

“Kami jaga agar antrean tidak menghambat Jalan Mataram, sehingga sirkulasi tetap lancar,” tegasnya.

Petugas di lapangan juga mengurai kepadatan dengan mengalihkan sebagian kendaraan ke kawasan Pasar Kembang, sehingga ekor antrean menuju Malioboro tidak semakin panjang.

Menariknya, meski Malioboro padat, secara umum arus lalu lintas selama libur Nataru 2025 dinilai masih terkendali. Hingga hari keempat Operasi Lilin Progo 2025, kondisi lalu lintas di simpang Kridosono dan jalur masuk Kota Jogja dari arah timur masih relatif landai.

Data menunjukkan volume kendaraan dari exit Tol Prambanan, Klaten, hanya berkisar 9–10 ribu unit per hari angka yang setara dengan akhir pekan normal. Inilah yang membuat Kota Jogja belum mengalami puncak kemacetan ekstrem.

Dari catatan Dinas Perhubungan DIY, hingga 24 Desember 2025 tercatat sekitar 1,1 juta kendaraan masuk ke DIY, sementara hampir 1 juta kendaraan keluar pada periode yang sama. Keseimbangan inilah yang menjaga lalu lintas tetap stabil.

Menurut Ardi, panjangnya masa libur Nataru memberi ruang bagi wisatawan untuk mengatur waktu perjalanan, sehingga tidak menumpuk di hari yang sama.

“Wisatawan datang, menginap, lalu keluar lagi. Pola ini menciptakan keseimbangan arus,” jelasnya.

Fenomena ini disebut sebagai dampak langsung kebijakan pemerintah yang memperpanjang libur bersama, memberi masyarakat fleksibilitas berwisata tanpa harus berdesakan dalam satu waktu.

Jogja pun kembali membuktikan satu hal: Malioboro bukan sekadar jalan, tapi magnet wisata yang selalu berhasil menyedot jutaan langkah manusia.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.