Lewat Logam Tanah Jarang, Perminas Harus Bisa Membawa Indonesia Keluar dari Kutukan Pemasok Bahan Mentah

Haidar Alwi
banner 468x60

Oleh: R. Haidar Alwi
Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB

Indonesia sedang dihadapkan pada pilihan strategis yang akan menentukan posisinya dalam peta industri global untuk puluhan tahun ke depan. Logam tanah jarang bukan sekadar pertambangan, melainkan cerminan kemampuan negara untuk keluar dari pola lama sebagai pemasok bahan mentah.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Kerangka dan data dari survei geologis Amerika Serikat menunjukkan bahwa nilai logam tanah jarang tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang digali, melainkan oleh siapa yang menguasai pengolahan, pemurnian, dan pemanfaatannya dalam industri strategis.

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan sumber. Unsur logam tanah jarang hadir sebagai ikutan timah, nikel, serta berbagai tailing yang selama ini dianggap sebagai limbah. Namun selama negara hanya berhenti pada tahap bahan mentah atau campuran oksida, Indonesia tidak pernah berubah.

Negara lain memisahkan unsur bernilai tinggi, mengolahnya menjadi magnet, motor listrik, dan komponen teknologi, lalu menjual kembali produk tersebut ke Indonesia dengan harga berkali-kali lipat. Dalam rantai nilai seperti ini, kekayaan alam justru menjadi simbol ketergantungan, bukan kedaulatan.

Proyek logam tanah jarang tidak boleh dirancang untuk menghasilkan keuntungan jangka pendek. Teknologinya mahal, pasarnya sensitif, dan risikonya tinggi. Jika negara hanya menunggu proyek yang pasti menguntungkan dalam waktu singkat, industri ini tidak akan pernah berkembang.

Negara harus berani mengambil risiko pada tahap awal, menentukan arah yang jelas, dan menilai keberhasilan dari ukuran strategis. Yaitu penguasaan teknologi serta mengurangi ketergantungan impor produk jadi. Tanpa keberanian tersebut, seluruh agenda hilirisasi akan berhenti menjadi slogan politik.

Perminas seharusnya tidak diperlakukan seperti BUMN tambang biasa yang mengejar keuntungan cepat. Perannya justru sebagai alat negara untuk mengurus bagian pengolahan logam tanah jarang yang selama ini belum ada di Indonesia.

Tugasnya adalah mengelola unsur-unsur bernilai tinggi sebagai aset nasional, membangun kemampuan pengolahan meskipun dimulai dari skala kecil, dan memastikan hasilnya dapat dipakai oleh industri dalam negeri seperti kendaraan listrik, energi terbarukan, dan pertahanan.

Pengalaman hilirisasi nikel memberikan pelajaran penting. Pembangunan smelter memang penting, namun tanpa kelanjutan produk bernilai tinggi, ketergantungan impor tetap tidak terhindarkan.

Dalam konteks logam tanah jarang, tantangannya jauh lebih kompleks dan menuntut peran negara yang lebih tegas. Arah industri ini tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar atau keputusan investor, karena pasar logam tanah jarang memiliki kepentingan geopolitik dan kendali teknologi.

Apabila Perminas diberi mandat strategis yang jelas, ia dapat berfungsi sebagai jembatan antara sumber daya alam, riset, dan industri nasional. Ia berpotensi mengubah limbah menjadi kekuatan, serta potensi menjadi kendali nyata. Namun jika tidak, Perminas hanya akan menjadi nama baru bagi pola lama. Mengelola kekayaan alam tanpa pernah benar-benar berdaulat.

Tanpa keberanian negara untuk menentukan arah dan mengambil risiko awal, Indonesia akan terus berada di pinggiran rantai nilai global. Sebaliknya, dengan arah yang tegas dan instrumen yang tepat, logam tanah jarang dapat menjadi pintu masuk bagi Indonesia menuju negara yang tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga berdaulat dan memegang kendali di masa depan.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.