JAKARTA, Radarjakarta.id — Malam Valentine berubah menjadi lautan emosi saat Mahalini resmi “bangkit” dari hiatus lewat konser tunggal KOMA Live In Concert. Tiga jam penuh drama, visual megah, dan momen keluarga membuat Istora bergetar—bukan hanya oleh suara, tapi oleh air mata.
Comeback ini bukan sekadar konser. Ini deklarasi: Mahalini kembali, lebih kuat, lebih berani, dan lebih personal.
Panggung Spektakuler, Narasi Empat Elemen
Konser dibuka dengan “Mati-Matian” dan “Mencintaimu”. Visual raksasa menampilkan simbol dewi laut, planet, es, hingga kobaran api—mewakili fase hidup dan perjalanan batin sang diva muda. Gaun cokelat cooper dengan aksen sayap bunga metalik mempertegas aura “bumi” di awal pertunjukan.
Memasuki babak berikutnya, panggung berubah bak samudra biru. Mahalini tampil layaknya putri duyung, sebelum akhirnya “melayang” di udara pada segmen langit. Menuju klimaks, nuansa es berganti api—balada sendu berubah menjadi dentuman rock yang membakar Istora.
“Masya Allah akhirnya aku nyanyi lagi! Aku gak nyangka bisa berdiri di depan kalian malam ini,” ucapnya disambut teriakan ribuan Mylinz.
Momen Paling Menggetarkan: Dua Keluarga, Satu Panggung
Di tengah gemerlap cahaya, suasana mendadak hening. Mahalini memanggil dua keluarganya naik ke panggung—keluarga besarnya dan keluarga sang suami, Rizky Febian.
Hadir pula sang mertua, Sule, bersama anak-anaknya: Rizky Febian, Rizwan, Ferdi, dan Putri Delina. Mereka kompak menyanyikan “Bawa Dia Kembali”, lagu yang dipersembahkan untuk mendiang ibu masing-masing.
Layar LED menampilkan foto ibunda Mahalini dan ibu mertua tercinta. Bahkan, wajah sang ibu dihidupkan kembali melalui sentuhan AI tersenyum lembut seolah menyaksikan putrinya dari dekat. Tangis Mahalini pecah. Istora pun ikut larut.
“Aku beruntung punya dua keluarga yang selalu support. Semoga kita semua panjang umur,” ucapnya sambil merangkul mereka.
Sule Datang Naik Motor, Istora Histeris
Jika ada momen paling tak terduga, itu adalah kemunculan Sule yang masuk panggung mengendarai motor Mio Karbu. Aksi nyentriknya langsung memancing tawa dan tepuk tangan.
Ia membawakan “Susis” dengan aransemen reggae santai. Meski dikenal sebagai komedian, kualitas vokalnya malam itu membuktikan ia bukan sekadar penghibur.
Kolaborasi Bintang, Istora Jadi Lautan Suara
Konser semakin panas saat sederet musisi papan atas naik panggung:
Isyana Sarasvati, Yura Yunita, Kaka Slank, hingga Adrian Khalif.
Duet “Melawan Restu”, “Sial”, hingga “Sialan” membuat seluruh Istora bernyanyi tanpa komando. Bahkan lagu-lagu baru dari album KOMA sudah dihafal ribuan penonton.
Tak hanya Jakarta, penggemar dari Bali, Bandung, hingga Malaysia memadati arena. Mahalini pun memastikan tur ini akan berlanjut ke Negeri Jiran pada Mei 2026.
Tangis di “Sisa Rasa”, Lahirnya Era Baru
Menjelang akhir, Mahalini membawakan “Untuk yang Bersama-Nya” dan “Sisa Rasa”. Dengan latar wajah sang ibu yang tersenyum, suaranya bergetar. Air mata tak lagi bisa disembunyikan.
Konser ditutup dramatis: ia muncul dari kelopak bunga raksasa, simbol kelahiran kembali. KOMA bukan hanya album setelah Fabula ini fase baru dalam hidup dan kariernya.
Malam itu, Mahalini tak sekadar bernyanyi. Ia berdamai dengan kehilangan, merayakan cinta, dan membuktikan bahwa jeda bukan akhir melainkan awal yang lebih besar.***











