INTERNASIONAL, Radarjakarta.id – Operasi kilat Amerika Serikat yang berhasil menjatuhkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada awal Januari 2026 ternyata mengguncang bukan hanya Caracas, tetapi juga Pyongyang. Di Korea Utara, peristiwa itu disebut-sebut memicu kepanikan tingkat tinggi di lingkaran terdalam kekuasaan Kim Jong Un.
Seorang mantan diplomat senior Korea Utara mengungkapkan, aksi Washington tersebut menjadi mimpi buruk yang kini berubah menjadi kenyataan bagi Kim: skenario “pemenggalan kepemimpinan” bukan lagi ancaman kosong.
“Kim Jong Un pasti menyadari bahwa operasi seperti itu benar-benar bisa dilakukan,” ujar Lee Il-kyu, eks penasihat politik Korea Utara di Kuba, dalam wawancara eksklusif dengan AFP.
Lee, yang membelot ke Korea Selatan pada akhir 2023, menyebut penggulingan Maduro telah memicu alarm merah di kalangan elite keamanan Pyongyang. Menurutnya, Kim kini berada dalam mode siaga penuh dan akan merombak total sistem pengamanan pribadinya.
“Bagi rezim Korea Utara, ini adalah skenario terburuk. Kim akan mengubah seluruh pola keamanan untuk menghadapi kemungkinan serangan langsung terhadap dirinya,” tegas Lee.
Selama bertahun-tahun, Pyongyang menuduh Washington merancang upaya pergantian rezim. Program nuklir dan misil Korut selalu dijustifikasi sebagai tameng terakhir menghadapi ancaman tersebut.
Namun, kejatuhan Maduro dinilai menjadi bukti konkret bahwa AS memiliki kemampuan nyata untuk mengeksekusi operasi cepat, presisi, dan mematikan.
Lee bukan sosok sembarangan. Dari posnya di Havana sekutu ideologis Caracas ia memainkan peran strategis dalam diplomasi Korea Utara di Amerika Latin. Ia terlibat langsung dalam negosiasi tingkat tinggi, termasuk pembebasan kapal Korut yang ditahan Panama pada 2013, prestasi yang membuatnya menerima penghargaan pribadi dari Kim Jong Un.
Namun sistem yang korup dan tertutup akhirnya membuatnya muak. Penolakan promosi setelah menolak menyuap atasan menjadi titik balik. “Saya sudah muak,” kata Lee singkat.
Pelariannya dramatis dan nyaris berakhir tragis. Lee, bersama istri dan putrinya, sempat ditahan di bandara sebuah negara Amerika Tengah. Meski sudah menyatakan pembelotan, petugas bandara hampir memaksanya terbang ke Venezuela langkah yang hampir pasti berujung pada ekstradisi ke Kuba dan kemudian Korea Utara, yang menurut Lee setara dengan hukuman mati.
Situasi berubah drastis ketika seorang diplomat Korea Selatan datang dan menyatakan bahwa Lee dan keluarganya berada di bawah perlindungan Seoul. “Saat itu juga, semua petugas menghilang,” kenangnya. “Itu momen nyata yang menunjukkan kekuatan negara Korea Selatan.”
Sinyal kepanikan Kim Jong Un semakin kuat. Pekan lalu, intelijen Korea Selatan mendeteksi pergantian tiga pejabat senior yang bertanggung jawab atas pengamanan pribadi pemimpin Korut. Perubahan itu terlihat jelas saat parade militer Oktober lalu, termasuk di Komando Pengawal yang menangani ancaman drone dan serangan elektronik.
Analis Korea Institute for National Unification, Hong Min, menilai perombakan ini tak lepas dari dua faktor: pengerahan pasukan Korut ke Rusia dan dampak psikologis dari penangkapan Maduro oleh AS.
“Operasi di Venezuela dipandang Pyongyang sebagai contoh nyata serangan ‘pemenggalan kepala’,” ujarnya.
Ketakutan Kim bahkan tercermin dalam propaganda domestik. Televisi pemerintah Korut menayangkan film Days and Nights of Confrontation, yang menggambarkan penangkapan pemimpin negara oleh kekuatan asing tayang hanya beberapa hari setelah Maduro ditangkap. Pesannya tersirat namun tajam: jika itu bisa terjadi di Caracas, mengapa tidak di Pyongyang?
Mantan pejabat intelijen AS, Sydney Seiler, menyebut operasi tersebut sebagai contoh nyata praktik “rendition”penangkapan target musuh untuk dibawa ke luar negeri.
Istilah lain yang menghantui Kim adalah “decapitation”, skenario yang selama ini dilatih AS dalam latihan militer gabungan.
“Pemenggalan kepemimpinan adalah cara tercepat mengakhiri konflik,” kata Seiler. Tanpa Kim, Korea Utara akan kehilangan pusat kendali militer, nuklir, dan stabilitas politik sekaligus.
Kini pesan itu tampaknya benar-benar sampai ke Pyongyang: dinasti Kim tidak lagi kebal. Dan bayang-bayang Caracas telah berubah menjadi mimpi buruk di Korea Utara.***










