JAKARTA, Radarjakarta.id – Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) 92 mengatakan dinamika global menunjukkan eskalasi yang tinggi, terutama setelah serangan Amerika Serikat-Israel ke wilayah Iran yang memicu guncangan geoekonomi serius. Dampaknya tidak hanya di Timur Tengah, tetapi menjalar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia.
“Situasi dalam negeri sejak awal tahun hingga Idul Fitri diwarnai provokasi dan ujaran kebencian memang menjadi tantangan serius bagi stabilitas sosial di Indonesia,” ujar Ketua Umum Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) 92, Sunarti dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (18/3/2026).
Sunarti menerangkan, disinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian di dunia maya terus meningkat, bahkan berpotensi lebih terstruktur dan bersifat instrumental, yang dapat menghambat pelaksanaan kebijakan strategis. Situasi negara saat ini juga sedang dihadapkan pada berbagai persoalan sesama anak bangsa.
“Pro kontra terkait isu ijazah palsu mantan Presiden Jokowi yang selalu menghiasi media sosial dan elektronik sudah cukup menguras energi publik. Dan peganiayaan sejumlah aktivis membuat kita saling mencurigai akibat penggunaan AI yang tidak bertanggungjawab, dengan tambah lagi berbagai analisa sehingga membuat kita tidak lagi objektif dengan fakta serta persoalan yang ada,” jelasnya.
Sunarti mengingatkan, bahwa meningkatnya disinformasi, berita bohong, hingga ujaran kebencian yang memicu perdebatan yang melahirkan kebencian di tengah masyarakat. Hal ini sering kali dimanfaatkan untuk tujuan politik tertentu dan memperlebar polarisasi.
“Masyarakat perlu lebih bijak dalam menyikapi berbagai informasi yang muncul, terutama yang berpotensi memicu perpecahan atau memanaskan situasi nasional,” terangnya.
Sunarti menegaskan, kritik terhadap kebijakan negara tetap penting sebagai bagian dari kontrol publik. Namun, sambungnya, kritik tersebut harus bersifat konstruktif dan tidak berubah menjadi ujaran kebencian yang merendahkan atau memprovokasi masyarakat di tengah situasi global yang belum menentu serta dinamika sosial politik dalam negeri saat ini.
“Masyarakat diminta tetap menjaga persatuan dengan saling jaga dan saling bantu serta tidak mudah terprovokasi oleh berbagai informasi yang beredar, ” pungkasnya.











