MEDAN, Radarjakarta.id – Kota Medan dikejutkan dengan peristiwa kebakaran dahsyat yang melalap habis pabrik pengolahan minyak sawit PT Anugerah Refinery Medan (ARM) di Jalan Kapten Mohammad Ilyas, Kelurahan Sei Mati, Rabu (23/7/2025). Hingga pagi ini, api masih membara, sementara asap hitam pekat terus mengepul ke langit, menyesakkan napas warga!
Kebakaran yang meledak-ledak sejak sore kemarin bukan hanya membakar bangunan, tapi juga menghantui ribuan warga dengan polusi udara ekstrem. Kepulan asap hitam menyelimuti kawasan Medan Labuhan, membuat suasana semakin mencekam dan penuh ketakutan.
“Kami sesak napas! Anak-anak saya batuk-batuk dari semalam. Udara penuh asap dan kami tidak tahu harus bagaimana!” ujar seorang ibu warga sekitar, yang menyaksikan langsung kobaran api dari pinggir jalan.
Lokasi pabrik yang terbakar berada dekat simpang kantor Jalan KL. Yos Sudarso, kawasan yang padat lalu lintas dan permukiman warga. Dari semalam hingga pagi ini, ratusan warga dan pengendara yang melintas tampak berhenti, menyaksikan dengan cemas langit yang dipenuhi asap hitam pekat. Banyak yang merekam kejadian tersebut sambil mengungkapkan kemarahan terhadap lemahnya pengawasan industri berbahaya di tengah pemukiman.
Tak hanya mencemari udara, kebakaran ini juga menimbulkan kepanikan massal. Beberapa kali terdengar suara ledakan dari bagian belakang gudang penyimpanan bahan baku yang sangat mudah terbakar. Ledakan itu mengguncang warga, yang khawatir akan terjadinya kebakaran susulan ke pemukiman sekitar.
Petugas PLN bahkan terpaksa memutus aliran listrik di sekitar lokasi pada pukul 20.00 WIB demi menghindari korsleting dan risiko lebih fatal. Akibatnya, warga harus gelap-gelapan di rumah masing-masing, menambah rasa takut dan ketidakpastian.
Padahal, puluhan unit mobil pemadam kebakaran telah dikerahkan sejak awal. Namun, karena volume bahan mudah terbakar sangat besar, api tak juga bisa dijinakkan hingga berita ini diturunkan.
Yang lebih memprihatinkan, PT ARM ternyata menempati bekas lokasi pabrik PT Able, yang sudah lama ditinggalkan. Kini publik bertanya:
Mengapa izin pengolahan minyak sawit diberikan di tengah kawasan padat penduduk? Di mana pengawasan dari pihak berwenang? Siapa yang bertanggung jawab atas penderitaan warga ini?
Warga mendesak Pemerintah Kota Medan, Dinas Lingkungan Hidup, dan aparat penegak hukum untuk segera turun tangan dan menindak tegas pengelola pabrik yang diduga lalai dalam sistem keamanan industri.
“Kalau ada korban jiwa, siapa yang bertanggung jawab? Ini sudah darurat lingkungan!” teriak salah satu warga dengan nada tinggi di lokasi kejadian.
Kebakaran PT ARM kini menjadi simbol kegagalan tata kelola industri yang aman di Kota Medan. Warga menuntut keadilan dan perlindungan, sebelum bencana yang lebih besar kembali terjadi.| Ayla*
Kebakaran Pabrik PT ARM Tak Kunjung Padam, Udara Tercemar Parah










