RADAR JAKARTA | Medan – Sebuah pencapaian membanggakan kembali diraih jajaran kepolisian Indonesia. Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Gidion Arif Setyawan, SIK, SH, MHum, resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Administrasi usai menjalani ujian terbuka Program Doktor di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA), Universitas Brawijaya, Malang, Rabu (28/5/2025).
Dalam sidang terbuka yang dipimpin oleh Dr. Imam Hanafi MS., M.Si, Kombes Gidion mempresentasikan disertasinya yang berjudul:
“Collaborative Governance dalam Perlindungan Anak Berhadapan Hukum (ABH)”
dengan studi kasus di wilayah Daerah Khusus Jakarta (DKJ).
Isu Serius: Penurunan Indeks Perlindungan Anak
Dalam paparannya, Kombes Dr. Gidion menyoroti menurunnya indeks perlindungan anak di Indonesia, khususnya bagi anak-anak yang berhadapan dengan hukum (ABH).
“Indonesia bahkan masuk 10 besar negara dengan angka kekerasan terhadap anak tertinggi. Ini alarm serius,” tegasnya di hadapan tim penguji dan promotor.
Ia menilai bahwa pendekatan tradisional dalam menangani ABH tidak lagi memadai. Sebagai solusi, ia mengusulkan model collaborative governance suatu pendekatan kolaboratif lintas lembaga dan sektor yang menggabungkan kekuatan pemerintah, swasta, masyarakat sipil, hingga unsur internasional.
Solusi: Sinergi Lintas Lembaga
Dalam disertasinya, Kombes Gidion menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga-lembaga seperti:
• Polri
• Kementerian PPPA
• KPAI
• Balai Pemasyarakatan (BAPAS)
• Kejaksaan
• Komnas Perlindungan Anak, dan lainnya.
Menurutnya, dengan pendekatan kolaboratif berbasis teori Greenwood (2021), tata kelola perlindungan anak bisa lebih efektif, berkelanjutan, dan terlembagakan.
Studi Kasus Nyata: Anak Tanpa Identitas
Kombes Gidion menceritakan salah satu kasus yang ia temui di wilayah hukumnya. Seorang anak perempuan korban pelecehan tidak memiliki akta kelahiran maupun identitas kependudukan, sehingga terhambat dalam proses perlindungan hukum.
“Kami berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menerbitkan dokumen identitas. Dengan begitu, hak-haknya bisa dipenuhi secara hukum dan sosial,” ujarnya.
Dari Kenakalan Remaja hingga Pendidikan Karakter
Mantan Kapolres Metro Jakarta Utara dan Bekasi ini juga menyampaikan apresiasinya terhadap sejumlah kepala daerah yang menginisiasi program pendidikan karakter bagi ABH.
“Saya pernah merasakan pendidikan militer selama tiga tahun. Disiplin, kepatuhan, dan rasa kebangsaan terbentuk dari sana. Pendidikan karakter sangat penting bagi ABH untuk membentuk masa depan yang lebih baik,” ungkap lulusan Akpol 1996 ini.
Dukungan Akademik dan Kepakaran Nasional
Ujian terbuka Kombes Gidion dihadiri oleh tokoh-tokoh penting akademik, seperti:
Prof. Drs. Andy Fefta Wijaya, MDA, Ph.D (Promotor, sekaligus Rektor dan Dekan FIA UB)
Dr. Hermawan, S.IP., M.Si
Dr. Yurizal, SH., MH
Tim penguji: Prof. Dr. Soesilo Zainal, MS, Dr. Mochammad Rozikin, M.AP, Prof. Dr. Bambang Santoso Haryono, MS, dan Dr. Endah Setyowati, S.Sos., M.Si.
Turut hadir secara daring sebagai reviewer eksternal:
• Prof. Dr. P. Israwan Setyoko, MS
• Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, M.Hum., M.Si., M.M
Dari Hal Kecil Menuju Perubahan Besar
“Kita mulai dari hal kecil untuk mencapai cita-cita besar. Perlindungan anak bukan hanya tugas satu pihak, tapi tanggung jawab bersama,” tutup Dr. Gidion penuh semangat.
Selamat kepada Kombes Pol Dr. Gidion Arif Setyawan atas pencapaiannya. Semoga ilmunya memberi kontribusi nyata dalam perlindungan anak Indonesia.
🖋 Al Pane | Radar Jakarta











