Meski begitu, belum ada detail terkait total jumlah korban meninggal dunia maupun jumlah korban luka.
Lebih dari 100 rumah dan pertokoan kebakaran tak lama setelah gempa terjadi. Kebakaran besar terjadi di pusat Kota Wajima pada Senin malam setelah gempa terjadi.
Wajima merupakan kota pesisir yang dekat dengan pusat gempa di Ishikawa.
Pemerintah Jepang menyatakan tak ada kelainan di pembangkit listrik tenaga nuklir di Ishikawa. Wilayah itu sendiri telah dihantam tsunami usai gempa.
“Telah dipastikan bahwa tidak ada kelainan di pembangkit listrik tenaga nuklir Shika (di Ishikawa) dan stasiun lainnya hingga saat ini,” kata juru bicara pemerintah Yoshimasa Hayashi seperti dilansir AFP.
Sebanyak 30 ribu rumah dan bangunan di Prefektur Ishikawa, Niigata, dan Toyama terpaksa mengalami mati listrik hingga beberapa jam imbas gempa dahsyat.
Empat kereta cepat yang sempat terhenti ketika gempa mengguncang, kini telah kembali beroperasi ke tujuan mereka, dikutip dari NHK. Kereta itu sebelumnya terdampar di antara kota Toyama dan Kanazawa di Jepang tengah setelah gempa.
Setelah berhenti selama lebih dari 11 jam, dua kereta tiba di stasiun Toyama pada Selasa pukul 04.00 pagi waktu setempat. Dua kereta lainnya yang berangkat dari arah berlawanan tiba di stasiun Kanazawa di Prefektur Ishiwaka. Dilaporkan hampir 1.400 penumpang terdampar di dalam kereta berkecepatan tinggi tersebut.
Gempa terasa hingga Pulau Sakhalin di Rusia yang dekat Jepang dan Kota Vladivostok juga berada dalam status ‘waspada’ tsunami. Peringatan tsunami dikeluarkan usai gempa dengan M 7,6 terjadi di Jepang.Sementara itu, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengaku masih terus memantau warga negara Indonesia (WNI). Lembaga negara itu mencatat sebanyak 1.315 WNI yang menetap di Prefektur Ishikawa, Jepang, pusat gempa.
“Kemlu saat ini sedang berkoordinasi dengan KBRI Tokyo dan KJRI Osaka untuk mengetahui dampak gempa dan tsunami. KBRI dan KJRI tengah berkoordinasi dengan otoritas setempat dan simpul masyarakat Indonesia,” tulis Kemlu dalam siaran pers, Selasa (2/1/2024).
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengaku masih terus memantau warga negara Indonesia (WNI). Lembaga negara itu mencatat sebanyak 1.315 WNI yang menetap di Prefektur Ishikawa, Jepang, pusat gempa.
“Kemlu saat ini sedang berkoordinasi dengan KBRI Tokyo dan KJRI Osaka untuk mengetahui dampak gempa dan tsunami. KBRI dan KJRI tengah berkoordinasi dengan otoritas setempat dan simpul masyarakat Indonesia,” tulis Kemlu dalam siaran pers, Selasa (2/1/2024).











