Jelang Pilkada 2024, Pemuda Desak Pemimpin Berpihak Pada Kesejahteraan Rakyat

banner 468x60

Radarjakarta.id | JAKARTA – Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) bersama dengan beberapa perwakilan pemuda menyelenggarakan konferensi pers jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024. Mengusung tema “Kawal Pilkada – Kawal Kesehatan Warga”, hal ini menjadi ajang penting untuk menentukan arah kebijakan daerah yang memengaruhi kehidupan jutaan masyarakat Indonesia.

Dengan pemilih muda mencakup lebih dari 56% dari total pemilih, generasi milenial dan Gen Z memiliki peran strategis dalam menentukan masa depan bangsa. Namun, di tengah suasana politik, mereka menilai ada isu-isu mendasar yang menyentuh langsung kesejahteraan publik, seperti kesehatan masyarakat yang sering kali terabaikan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Tantangan seperti tingginya angka konsumsi rokok di kalangan anak muda terus menjadi ancaman besar bagi generasi mendatang. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan bahwa jumlah perokok aktif diperkirakan mencapai 70 juta orang, dengan 7,4% di antaranya adalah perokok anak. Begitupun dengan penggunaan rokok elektronik atau vape yang bertambah sepuluh kali lipat dalam satu dekade terakhir.

“Tingginya angka perokok sebenarnya sudah menunjukan bahwa isu krusial seperti ini kerap terpinggirkan dalam isu-isu politik nasional. Padahal, dampaknya merambah ke sektor-sektor vital negara, seperti kesehatan masyarakat, ekonomi, lingkungan, hak asasi manusia, dan lainnya. Belum lagi, efek candu dari rokok yang terus mengikat konsumennya untuk loyal kepada produk berbahaya tersebut turut memperparah ancaman terhadap masa depan bangsa,” ujar Ni Made Shellasih, Program Manager Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC).

Shella menilai bahwa momentum Pilkada ini seharusnya menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk tidak hanya memilih pemimpin, tetapi juga memastikan arah kebijakan yang berkelanjutan. “Pemilih harus melihat kandidat dengan pertimbangan luas, bukan hanya janji politik, tetapi juga rekam jejak yang menunjukkan keberpihakan terhadap kepentingan publik,” tambah Shella.

Di tengah meningkatnya tantangan kesehatan publik, Rizky Ramadhan, anggota Dewan Perwakilan Remaja (DPRemaja) dari Kota Medan , program inisiasi IYCTC dan CISDI, menyoroti bahwa anak muda terus menjadi target utama dalam strategi pemasaran industri rokok. “Di Kota Medan sendiri, isu kesehatan masyarakat juga sering kali dinomor duakan dalam prioritas politik daerah. Kawasan tanpa rokok (KTR) yang seharusnya melindungi ruang publik dari paparan rokok, misalnya, masih jauh dari optimal. Tempat makan, taman kota, hingga fasilitas pendidikan sering kali menjadi area bebas tanpa pengawasan. Hal ini semakin diperparah dengan banyaknya iklan rokok yang tersebar di dekat sekolah, melanggar regulasi yang sudah ada,” tegas Rizky.

Sementara itu, Yemima Aurellia dari Pemuda Penggerak berbagi pengalaman tentang implementasi kebijakan di Surakarta. “Banyak daerah memiliki regulasi pengendalian rokok yang sudah baik di atas kertas, tetapi tanpa pemimpin yang tegas, implementasinya lemah. Di Surakarta, kami berkolaborasi dengan Yayasan Kakak dan pemangku kebijakan (Pemerintahan lokal, dinas terkait dan DPRD setempat) untuk memastikan Perda No. 19 tahun 2019 tentang KTR (Kawasan Tanpa Rokok) dan Perda Reklame No. 3 tahun 2023 yang salah satunya mengatur tentang pelarangan iklan rokok radius 200 meter dari sekolah dan telah terlaksana dengan baik. Dan secara langsung, ini menunjukkan bukti bahwa kebijakan dapat berhasil jika ada dukungan penuh dari kepala daerahnya” katanya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.