JAKARTA, Radarjakarta.id — Jakarta bukan hanya menghadapi naiknya permukaan laut, tetapi daratan yang ambles ekstrem. Fenomena penurunan muka tanah (land subsidence) di Ibu Kota kini mencapai titik kritis, dengan beberapa wilayah mengalami amblas hingga 28 cm per tahun, menempatkan ribuan warga dalam risiko banjir rob, banjir hujan, dan kerusakan permukiman.
Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), rata-rata penurunan tanah di Jakarta Utara mencapai 3,5 cm per tahun. Namun Pantai Mutiara dan Cengkareng Barat menjadi episentrum krisis, dengan laju ambles tanah ekstrem hingga 28 cm per tahun jauh melampaui kenaikan permukaan laut global yang hanya 1,8–4 mm per tahun.
Penyebab utama adalah pengambilan air tanah dalam secara masif. Pompa besar menyedot air dari kedalaman lebih dari 100 meter.
Dr. Yus Budiyono, peneliti BRIN, menekankan, “Kalau air bersih sudah tersedia, warga tak perlu lagi menyedot air tanah dalam yang memperparah amblesan.” Vegetasi juga berperan: setiap keluarga menanam satu pohon dapat menambah 3 juta pohon di Jakarta, memperbaiki mikroklimat dan menurunkan ekstrem cuaca.
Dampak penurunan tanah sangat nyata. Risiko banjir meningkat hingga 40 persen, termasuk banjir rob, banjir akibat luapan sungai, dan hujan ekstrem lokal. BMKG mencatat curah hujan harian tertinggi pada Januari 2020 mencapai 377 mm per hari, jauh melampaui kapasitas drainase kota yang hanya 50–100 mm per hari.
Fenomena banjir gabungan (compound flooding) kerap terjadi akibat pasang laut maksimum, hujan dini hari, dan tanah ambles.
Di Pantai Mutiara, ketinggian air laut kini melampaui daratan.
Tanggul beton setinggi 1,5 meter hanya berjarak 50 meter dari pemukiman, tanpa pemecah ombak di sisi laut, sehingga beton langsung menerima tekanan gelombang. Warga khawatir tanggul jebol sewaktu-waktu, sementara di Muara Angke tanggul setinggi satu meter belum rampung.
Pemerintah DKI Jakarta mengandalkan proyek NCICD dan pembangunan 66 polder untuk menyalurkan banjir ke laut. Namun Dr. Yus mengingatkan, “Semua infrastruktur sia-sia jika amblesan tanah tidak dihentikan. Penyediaan air baku bagi seluruh warga adalah kunci utama.”
Pengalaman warga membuktikan ancaman nyata. Slamet (62), warga Kali Besar, mengaku rumah mulai miring dan retak sejak 1990-an. Tugu Penurunan Tanah di Kota Tua menjadi simbol edukasi, memperlihatkan amblasnya daratan sejak 1974 hingga kini. Warga berharap pemerintah tak hanya menandai, tetapi bertindak nyata.
Jika tren penurunan tanah terus berlanjut, diperkirakan 95 persen wilayah Jakarta Utara berpotensi terendam pada 2050. Jakarta kini menghadapi darurat land subsidence. Waktu menjadi penentu: bertindak cepat atau menyaksikan Ibu Kota perlahan tenggelam.|Ucha*











